RadarBanyuwangi.id – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengunjungi sentra pembuatan besek ikan di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, kemarin (27/5). Dalam acara itu, orang nomor satu di Pemkab Banyuwangi itu juga mendorong para perajin untuk tetap giat di tengah pandemi.
Desa Kumendung ini memang dikenal sebagai sentra penghasil besek ikan. Besek yang terbuat dari anyaman bambu itu, dibuat untuk bungkus ikan laut. “Yang banyak membuat ibu-ibu,” terang Suwarni, 56, salah satu perajin besek asal Dusun Sumberjoyo, Desa Kumendung, Kecamatan Muncar.
Menurut Suwarni, sebagian besar para wanita di kampungnya memiliki penghasilan sendiri dengan bekarja membuat besek ikan pindang. Besek hasil kerajinan dari bambu itu, biasanya dikirim ke Jember, Situbondo, dan Trenggalek. “Kecamatan Muncar sentra besek ikan,” katanya.
Suwarni mengaku lebih dari sepuluh tahun menggeluti usaha kerajinan besek ikan. Di kampungnya, pemesanan dan transaksi besek ikan masih menggunakan cara-cara tradisional, yakni dengan mengandalkan kepercayaan. “Kita saling percaya saja, barang dikirim dulu,” terangnya.
Harga besek ini, jelas dia, setiap satu ikat yang berisi 100 biji besek harganya paling murah Rp 8.000. Jika harganya sedang bagus, bisa mencapai Rp 30 ribu. “Ada tengkulak yang datang ke sini, garga fluktuatif dan kita percaya saja pada tengkulak,” terangnya.
Untuk membuat besek, jelas dia, selama ini masih menggunakan cara pengolahan tradisional. Dengan alat utama tomang, ini dibuat untuk memanaskan bahan baku bambu dan pasa, sejenis pisau yang biasa digunakan tukang serut kayu, dan dibuat membelah dan membentuk bambu menjadi besek.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang melihat aktivitas pembuatan besek ikan itu menjelaskan Pemkab Banyuwangi terus berupaya mendorong Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), khususnya dalam pemulihan ekonomi di masa pendemi. Pemerintah juga memantau perkembangan ekonomi di sentra-sentra kerajinan tangan dan kuliner. “Banyak potensi UMKM di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Pemkab Banyuwangi menjangkau para pelaku usaha mulai dari pelosok desa,” katanya.
Saat ini yang menjadi kendala para perajin ini, terang dia, masalah pemasaran produk. Sebenarnya sudah ada upaya untuk meningkatkan nilai tambah dari kerajinan itu, tapi masih belum menyeluruh. Selain itu juga kesulitan pemasaran yang masih tradisional. “Kami akan memberi pengarahan kepada para pelaku UMKM agar produk mereka dapat terjual dengan lancar, dan tidak lagi terbelenggu dengan permainan tengkulak. Dengan begitu pelaku UMKM dapat merasakan hasil yang maksimal,” pungkasnya.(kri/abi)
Editor : Ali Sodiqin