Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jeruk Dekopon Jadi Primadona Petani

Ali Sodiqin • Rabu, 27 Januari 2021 | 00:30 WIB
jeruk-dekopon-jadi-primadona-petani
jeruk-dekopon-jadi-primadona-petani

Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi mendukung para petani mengembangkan ragam varietas unggul dan bernilai jual tinggi. Salah satunya pengembangan jeruk dekopon yang dilakukan petani di Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo.

Jeruk dekopon merupakan salah satu varietas hibrida antara jeruk kiyomi dan ponkan yang kali pertama dikembangkan di Jepang pada 1972 silam. Belakangan, jeruk tanpa biji yang memiliki cita rasa manis tersebut menjadi primadona masyarakat dan memiliki nilai jual relatif tinggi. Tak ayal, belakangan sejumlah petani di Banyuwangi getol mengembangkan jeruk varietas yang satu ini.

Salah satu petani jeruk dekopon, yakni Sujarwo mengatakan, harga jeruk yang satu ini di tingkat petani mencapai Rp 50 ribu per kilogram (kg). Permintaan pasar pun cukup tinggi. ”Saya memenuhi permintaan sejumlah langganan dari Jakarta, Surabaya, dan sejumlah kota lainnya,” ujarnya saat dikunjungi Bupati Abdullah Azwar Anas, Minggu (24/1).

Sujarwo menjelaskan, jeruk dekopon sudah mulai berbuah di usia tiga tahun. Produktivitasnya bisa mencapai 50 sampai 80 kg per pohon dalam satu tahun. ”Jeruk ini berbuah tidak berdasar musim seperti jeruk siam pada umumnya. Ini bisa berbuah sepanjang masa. Asalkan perawatannya dilakukan dengan baik,” kata dia.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Arief Setiawan menyebutkan, kondisi lahan di Banyuwangi cocok untuk pengembangan jeruk dekopon. ”Perawatannya juga cukup mudah. Sama dengan jeruk lainnya,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Anas mengapresiasi inovasi para petani di Banyuwangi. ”Inovasi ini perlu kita dukung. Bagaimana para petani bisa mengambangkan aneka varietas tanaman yang memiliki nilai jual tinggi,” kata dia sembari meminta Dinas Pertanian untuk lebih intensif mendampingi para petani jeruk tersebut.

Anas menyebutkan, saat ini Pemkab Banyuwangi juga telah memberikan subsidi pupuk organik gratis untuk 400 hektare per kecamatan untuk tanaman pangan dan ratusan hektare per kecamatan untuk tanaman hortikultura. Program ini juga telah berlangsung pada 2020. ”Dengan pemberian pupuk organik gratis ini, kami harap dapat membantu kebutuhan pupuk petani. Ini ke depan bantuan pupuk juga harus dinikmati petani jeruk di daerah Tegaldlimo ini,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#pertanian