RADAR BANYUWANGI – Kekeringan masih membayangi sejumlah wilayah di Kabupaten Grobogan. Di tengah keterbatasan pasokan air bersih itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang membangun empat sumur bor dan menyalurkan 30 tandon air untuk warga Grobogan dan Demak.
Bantuan diserahkan Jumat (25/9) dalam rangkaian program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menjelang HUT ke-81 KAI.
Tak hanya sarana air bersih, KAI juga membagikan 400 paket sembako kepada masyarakat di sekitar Stasiun Tanggung dan Stasiun Kedungjati.
Empat sumur bor tersebut tersebar di empat lokasi. Yakni, Dukuh Tegowanu Kidul, Desa Sidorejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak; Dukuh Tegalrejo, Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan; Dusun Krajan, Desa Padas, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan; serta Dukuh Pranak, Desa Gunung Tumpeng, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyerahkan bantuan kepada penerima manfaat. Tandon air diserahkan kepada pemerintah kecamatan, paket sembako kepada perwakilan warga, sedangkan sumur bor diserahkan kepada kepala desa di masing-masing lokasi.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif mengatakan, program tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasional kereta api.
“Kami ingin memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan air dan kebutuhan pokok masyarakat,” ujar Luqman.
Kekeringan Meluas
Bantuan itu disalurkan ketika krisis air bersih masih terjadi di sejumlah wilayah Grobogan.
Data BPBD Grobogan pada 23 September 2026 menunjukkan, sebanyak 108 desa di 19 kecamatan mengalami krisis air bersih.
Kepala BPBD Kabupaten Grobogan Wahju Tri Darmawanto menyebut distribusi air terus dilakukan sejak Mei.
“Sejak Mei sampai menjelang akhir September ini, sudah didistribusikan 617 tangki air atau setara sekitar 3,1 juta liter air bersih ke wilayah terdampak,” katanya.
Distribusi air bahkan masih berlangsung pada hari yang sama dengan penyerahan bantuan KAI.
Jumat (25/9), BPBD Grobogan bersama CSR PT Podo Rukun menyalurkan 48 ribu liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Kecamatan Karangrayung dan Penawangan.
Karangrayung menjadi salah satu wilayah yang mendapat bantuan sumur bor dari KAI. Sumur dibangun di Dukuh Pranak, Desa Gunung Tumpeng.
Desa tersebut sebelumnya juga mendapat pasokan air dari BPBD. Pada 10 September 2026, sebanyak 16 ribu liter air dikirim ke tiga titik di Dusun Banyupait, Desa Gunung Tumpeng.
Warga Kedungjati Cari Air di Sungai
Krisis air juga dirasakan warga Kecamatan Kedungjati.
Empat hari sebelum bantuan KAI disalurkan, warga Dusun Kedungbunder, Desa Kedungjati, dilaporkan telah menghadapi kekeringan selama sekitar dua bulan.
Bantuan 5 ribu liter air yang datang pada 21 September bahkan habis dalam waktu kurang dari satu jam.
Seorang warga Kedungjati, Amelia, mengatakan masyarakat harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sudah sekitar dua bulan kekeringan. Ya, terpaksa cari air di tanah di tengah sungai untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Warga harus berjalan sekitar satu kilometer. Mereka kemudian menggali tanah di tengah aliran sungai yang mengering untuk mendapatkan air.
Kedungjati termasuk wilayah sasaran program KAI. Salah satu sumur bor dibangun di Dusun Krajan, Desa Padas, Kecamatan Kedungjati.
Selain itu, sebanyak 15 tandon air dialokasikan untuk kecamatan tersebut.
Lebih dari 500 KK di Sugihmanik Terdampak
Kondisi serupa terjadi di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo.
Desa itu menjadi lokasi pembangunan satu sumur bor KAI. Kebutuhan sumber air baru menjadi penting karena lebih dari 500 kepala keluarga di Sugihmanik dilaporkan terdampak berkurangnya pasokan air bersih pada musim kemarau.
Dua sumber air di kawasan kaki Pegunungan Karst Kendeng terus mengalami penyusutan volume selama musim kemarau dalam lima tahun terakhir.
Pada Agustus lalu, warga bahkan harus memasukkan pipa ke celah sumber air Sendang Sari untuk mendapatkan air.
Kondisi kekeringan di Grobogan dan Demak juga tercermin dalam pemantauan iklim. Stasiun Klimatologi Jawa Tengah menempatkan kedua kabupaten dalam status awas kekeringan meteorologis pada dasarian II September 2026.
Pada dasarian I September, seluruh wilayah Jawa Tengah berada dalam kategori curah hujan rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian.
Salurkan 30 Tandon dan 400 Paket Sembako
Selain empat sumur bor, KAI Daop 4 Semarang menyalurkan 30 tandon beserta pasokan air.
Sebanyak 15 tandon dialokasikan untuk Kecamatan Tanggungharjo. Sisanya, 15 tandon, disalurkan ke Kecamatan Kedungjati.
Tandon tersebut diserahkan kepada pemerintah kecamatan untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat.
KAI juga membagikan 400 paket sembako. Sebanyak 200 paket disalurkan kepada warga di sekitar Stasiun Tanggung dan 200 paket lainnya kepada masyarakat sekitar Stasiun Kedungjati.
Luqman mengatakan, keberadaan jalur dan stasiun kereta api tidak dapat dipisahkan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Karena itu, KAI berharap bantuan tersebut dapat dikelola dan dimanfaatkan dalam jangka panjang.
“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan sebaik-baiknya sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas,” katanya.
Di tengah kekeringan yang masih terjadi di sejumlah titik Grobogan, keberadaan sumur bor menjadi lebih dari sekadar bantuan sesaat. Sumber air tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan warga pada distribusi air menggunakan truk tangki ketika musim kemarau datang.
Editor : Lugas Rumpakaadi