RADAR BANYUWANGI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang merambah kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen membuat Pemkab Banyuwangi menaikkan level penanganan menjadi status tanggap darurat selama 14 hari. Terhitung sejak Jumat (4/9) hingga Kamis (17/9), seluruh sumber daya dikerahkan untuk membendung laju api, termasuk tim gabungan, relawan, helikopter water bombing, hingga dapur umum. Status itu dapat diperpanjang apabila kondisi di lapangan masih membutuhkan penanganan.
Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Banyuwangi Nomor 100.3.3.2/229/KEP/429.011/2026. Langkah ini diambil karena kebakaran telah mendekati jalur pendakian menuju Kawah Ijen dan memaksa kawasan wisata tersebut ditutup sementara demi keselamatan pengunjung.
Api Merembet ke Jalur Pendakian
Kebakaran awal terdeteksi di kawasan hutan dan perkebunan Pasewaran, Kecamatan Kalipuro, pada Rabu (2/9). Petugas langsung melakukan penanganan secara bertahap untuk mengendalikan api.
Namun, kondisi berubah pada Jumat (4/9). Api mulai merembet mendekati kawasan Pondok Bunder, salah satu jalur menuju Kawah Ijen.
Perkembangan tersebut menjadi alarm serius. Selain berada di kawasan konservasi dan wisata, api yang mendekati jalur pendakian meningkatkan risiko keselamatan bagi wisatawan maupun petugas.
Kawasan Kawah Ijen akhirnya ditutup sementara bagi kunjungan wisatawan. Penutupan dilakukan sebagai langkah mitigasi sembari tim gabungan berupaya mengendalikan kebakaran.
Status Darurat untuk Percepat Penanganan
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan keputusan menaikkan status menjadi tanggap darurat diperlukan agar penanganan karhutla dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.
“Kami sudah tetapkan status darurat bencana 14 hari serta saya sudah tanda tangan Surat Pernyataan Tanggap Darurat untuk mempercepat penanganan,” katanya.
Status tersebut berlaku selama 14 hari, mulai Jumat (4/9) hingga Kamis (17/9). Namun, masa tanggap darurat tidak bersifat kaku. Perpanjangan dapat dilakukan apabila hasil evaluasi menunjukkan kebakaran masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Artinya, batas waktu tersebut menjadi periode intensif untuk memastikan api terkendali sekaligus mencegah kebakaran kembali meluas.
Medan Curam, Pemadaman Tak Bisa Hanya Mengandalkan Personel Darat
Tantangan terbesar berada pada karakter medan kawasan Ijen. Lokasi yang curam, ditambah vegetasi dan pepohonan di area terdampak, membuat mobilisasi personel serta peralatan pemadaman dari darat tidak mudah.
Tim gabungan bersama relawan masih bersiaga. Mereka melakukan pemantauan dan pemadaman secara simultan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.
Dalam kondisi seperti itu, pemadaman manual dinilai memiliki keterbatasan. Petugas tidak bisa dengan mudah menjangkau seluruh titik kebakaran yang berada di kawasan sulit.
Karena itu, strategi penanganan diperkuat dari udara.
Helikopter Water Bombing Dikerahkan
Helikopter water bombing dari BPBD Jawa Timur dan Kantor SAR Surabaya turut diturunkan untuk membantu operasi pemadaman.
Pesawat tersebut menjadi tambahan kekuatan bagi tim darat, terutama untuk menjangkau titik api yang sulit didatangi personel melalui jalur darat.
Air dijatuhkan dari udara pada area yang terbakar dengan harapan dapat mempercepat proses pemadaman sekaligus menekan potensi api merembet ke kawasan lain.
Kombinasi pemadaman darat dan udara menjadi penting karena karakter kebakaran di kawasan hutan tidak hanya bergantung pada luas area yang terbakar, tetapi juga kondisi angin, kemiringan medan, jenis vegetasi, dan akses menuju titik api.
Petugas dan Relawan Disokong Dapur Umum
Penanganan karhutla juga tidak hanya berkutat pada pemadaman. Kebutuhan personel yang bekerja dalam operasi berhari-hari turut menjadi perhatian Pemkab Banyuwangi.
Dapur umum didirikan di kawasan Kawah Ijen untuk memenuhi kebutuhan konsumsi petugas dan relawan yang terlibat dalam penanganan bencana.
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari dukungan operasional selama masa tanggap darurat. Dengan personel tetap berada di lapangan untuk pemantauan dan pemadaman, kebutuhan logistik harus dipastikan tersedia.
Status tanggap darurat selama 14 hari pun menjadi momentum untuk memperkuat seluruh operasi. Targetnya bukan hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi memastikan titik-titik rawan tidak kembali terbakar dan kawasan Ijen dapat dipastikan aman sebelum aktivitas wisata dibuka kembali.
Editor : Ali Sodiqin