RADAR BANYUWANGI – Api karhutla di kawasan TWA Ijen belum sepenuhnya mudah ditaklukkan. Angin kencang, tebing curam, dan kabut yang mengganggu jarak pandang pilot membuat pemadaman dari darat maupun udara menghadapi kendala serius. Setelah dua hari water bombing belum maksimal, operasi modifikasi cuaca (OMC) mulai digelar Senin (7/9) dengan menyebarkan 800 kilogram bahan semai NaCl ke langit Jawa Timur untuk memancing hujan di wilayah yang memiliki potensi awan hujan.
Strategi tersebut menjadi upaya tambahan untuk membasahi kawasan rawan api secara alami. Sebab, ketika medan sulit dijangkau dan helikopter tidak dapat terbang optimal akibat cuaca, hujan menjadi salah satu faktor penting untuk membantu menghentikan pergerakan api.
Dua Hari Water Bombing Terkendala Kabut
Kalaksa BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan pemadaman melalui udara telah dilakukan selama dua hari di kawasan Kawah Ijen.
Ribuan liter air telah dijatuhkan dari helikopter ke sejumlah titik api. Namun, operasi tersebut tidak berjalan maksimal karena kondisi cuaca berubah-ubah.
Kabut menjadi persoalan tersendiri. Jarak pandang pilot helikopter dapat terganggu, terutama pada siang hingga sore hari. Dalam kondisi tersebut, penerbangan dan pemadaman tidak bisa dipaksakan karena menyangkut keselamatan awak pesawat.
Karena itu, pemadaman dari udara dihentikan ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan.
OMC Mulai Bergerak, Hujan Masih Ditunggu
Di tengah keterbatasan tersebut, BPBD Jatim mengandalkan OMC untuk memperbesar peluang turunnya hujan di kawasan yang membutuhkan pembasahan.
“Mempercepat pemadaman, hari ini (7/9), OMC di Kawasan Ijen mulai berjalan. Penyemaian bahan NaCl beberapa kali dilakukan. Namun, sampai saat ini (sore), hujan belum juga turun. Tapi kami tunggu saja. Semoga hujan bisa segera turun,” kata Gatot di DPRD Jawa Timur, Senin (7/9).
Penyemaian dilakukan dengan menyebarkan bahan NaCl pada wilayah yang mempunyai potensi pertumbuhan awan hujan. Harapannya, proses tersebut dapat mengoptimalkan pembentukan hujan sehingga permukaan tanah dan vegetasi menjadi lebih basah.
Namun, OMC bukan berarti hujan dapat langsung turun di setiap lokasi. Keberhasilan operasi sangat bergantung pada keberadaan dan kondisi awan yang memungkinkan dilakukan penyemaian.
800 Kilogram NaCl Disebar ke Langit Jatim
Sebanyak 800 kilogram bahan semai NaCl disebarkan dalam operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Fokus penyemaian diarahkan ke daerah yang berdasarkan kondisi atmosfer memiliki potensi pertumbuhan awan hujan. Kawasan TWA Ijen menjadi salah satu sasaran karena tengah menghadapi karhutla.
OMC juga dilakukan di sejumlah kawasan lain, termasuk Gunung Argopuro, Gunung Arjuno, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), serta wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa operasi tidak hanya diarahkan untuk memadamkan api yang sudah muncul, tetapi juga meningkatkan pembasahan kawasan yang rentan terbakar.
Hujan Mulai Turun di Sejumlah Titik Banyuwangi
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil di sejumlah wilayah Jawa Timur. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dilaporkan turun di beberapa daerah yang sebelumnya menghadapi kondisi kering dan rawan kebakaran.
Di Banyuwangi, hujan mulai mengguyur Kecamatan Licin dan Kalibaru. Hujan juga turun di Kecamatan Pasrujambeh dan Pronojiwo, Lumajang.
Sejumlah wilayah lain di Malang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan juga mulai mendapatkan guyuran hujan.
Gatot menilai meskipun intensitas hujan masih rendah, turunnya hujan tetap menjadi perkembangan positif bagi penanganan karhutla dan kekeringan.
“Kemudian hujan juga mulai turun di sejumlah wilayah di Malang, Jember, Trenggalek dan Pacitan. Walaupun intensitas hujan yang turun masih kecil, namun hal itu dinilai bagus. Dengan adanya hujan permukaan menjadi basah dan dapat mencegah kebakaran,” ujarnya.
Bagi kawasan yang tengah terbakar, setiap pembasahan permukaan memiliki arti penting. Vegetasi yang lebih lembap akan lebih sulit terbakar dibandingkan kondisi ketika kawasan berada dalam periode kering berkepanjangan.
Madura Belum Bisa Disemai
Meski OMC telah berjalan di sejumlah wilayah, tidak semua daerah Jawa Timur dapat langsung mendapatkan intervensi penyemaian.
Wilayah Madura, termasuk Bangkalan, Sampang, Sumenep, dan Pamekasan, masih terkendala minimnya awan. Tanpa awan yang memenuhi syarat, penyemaian tidak dapat dilakukan secara optimal.
Karena itu, operasi selanjutnya akan mengikuti perkembangan awan hujan.
“Ke depan, penyemaian garam di udara bakal terus digenjot ke wilayah utara Jatim mengikuti peta persebaran awan hujan dari BMKG,” imbuh Gatot.
Untuk karhutla Ijen, kombinasi penanganan darat, water bombing, dan OMC kini menjadi satu rangkaian operasi. Petugas di lapangan tetap memburu titik api, helikopter menunggu kondisi cuaca yang memungkinkan untuk kembali melakukan pemadaman udara, sementara OMC berupaya menghadirkan pembasahan alami.
Di tengah tebing curam dan angin yang sulit diprediksi, operasi melawan api di Ijen kini juga berpacu dengan awan—karena hujan menjadi harapan untuk memutus bara yang sulit dijangkau. (ian/aif)
Editor : Ali Sodiqin