RADAR BANYUWANGI – Helikopter waterbombing sudah tiba di kawasan Ijen untuk memburu titik api karhutla, tetapi misi pemadaman dari udara belum bisa berjalan maksimal. Kabut tebal bercampur kepulan asap membuat jarak pandang terbatas sehingga operasi waterbombing harus dihentikan sementara, Minggu (6/9).
Helikopter milik BPBD Jawa Timur tersebut mendarat di lapangan Paltuding sekitar pukul 09.00. Pesawat sebelumnya diberangkatkan dari Malang, kemudian singgah di Bandara Banyuwangi sebelum melanjutkan penerbangan menuju kawasan Ijen.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Banyuwangi Partana mengatakan, pengerahan helikopter menjadi bagian dari strategi penanganan karhutla melalui jalur udara. Kehadiran armada tersebut diharapkan membantu menjangkau titik api yang sulit didatangi personel melalui jalur darat.
“Helikopter waterbombing milik BPBD Jatim sudah mendarat di lapangan Paltuding untuk memadamkan kebakaran hutan lewat jalur udara,” ujarnya.
Dalam operasi tersebut, helikopter mengambil air dari dua embung milik PT Medco. Air kemudian dijatuhkan dari udara untuk membasahi sekaligus memadamkan titik-titik api di kawasan yang terbakar.
Namun, kondisi alam Ijen menjadi tantangan tersendiri. Kabut tebal yang menyelimuti kawasan pegunungan, ditambah kepulan asap dari titik kebakaran, membuat jarak pandang tidak cukup mendukung untuk penerbangan.
Partana menyebut, operasi waterbombing telah dilakukan sebanyak empat sorti dan dua rit. Setelah itu, penerbangan dihentikan sementara hingga kondisi cuaca memungkinkan.
“Saat ini progres sudah empat sorti dan dua rit. Namun, karena cuaca kurang mendukung, proses waterbombing dihentikan sementara,” katanya.
Pantauan di lapangan hingga pukul 14.00 menunjukkan helikopter masih berada di lapangan Paltuding dan belum kembali mengudara. Kabut tebal masih menyelimuti kawasan Ijen, bersamaan dengan kepulan asap yang terlihat dari area kebakaran.
Tiga Tim Awasi Titik Api
Pemadaman dari udara tidak berdiri sendiri. Tim gabungan darurat karhutla lintas sektor tetap bergerak di lapangan untuk memastikan perkembangan setiap titik kebakaran terpantau.
Tim gabungan tersebut dibagi menjadi tiga tim lapangan. Masing-masing tim disiagakan di sekitar titik api dengan radius hingga tiga kilometer.
Tugas mereka bukan hanya memantau kondisi kebakaran, tetapi juga mengevaluasi dampak waterbombing yang telah dilakukan dari udara. Setiap perkembangan dilaporkan secara real-time untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Skema tersebut menjadi penting karena kondisi kawasan Ijen yang berada di wilayah pegunungan membuat pemadaman membutuhkan koordinasi antara personel darat dan dukungan udara.
Di tengah kabut yang belum bersahabat, helikopter waterbombing masih menjadi salah satu tumpuan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses. Namun, efektivitas operasi tetap bergantung pada jarak pandang dan kondisi cuaca.
Karhutla di kawasan TWA Ijen Banyuwangi dan Bondowoso pun belum sepenuhnya lepas dari ancaman. Selama titik panas dan kepulan asap masih terpantau, tim gabungan harus tetap bersiaga untuk mencegah api kembali membesar. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin