RADAR BANYUWANGI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen terus menjadi perhatian serius. Api yang bergerak cepat hingga radius sekitar 500 meter dari Paltuding membuat Pemkab Banyuwangi mengerahkan personel gabungan, kendaraan operasional, hingga sejumlah peralatan pemadaman. Karena medan sulit dan titik api sulit dijangkau, pendakian Kawah Ijen pun ditutup sementara demi keselamatan.
Di bawah komando Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, sedikitnya 11 personel gabungan khusus dari Pemkab Banyuwangi diterjunkan ke lokasi. Mereka bergabung dengan personel Perhutani, Taman Nasional, serta Pemkab Bondowoso untuk mengendalikan kobaran api.
Bukan hanya tenaga manusia yang dikerahkan. Pemkab Banyuwangi juga membawa sejumlah peralatan untuk mendukung pemadaman. Langkah tersebut dilakukan setelah api diketahui telah menjalar hingga radius sekitar 500 meter dari kawasan Paltuding.
Peralatan yang diterjunkan antara lain dua unit tangki air pemadam, empat unit mobil double cabin, enam unit tangki air berkapasitas masing-masing 1.200 liter, tiga unit mesin semprot, serta dua unit posko lengkap dengan perlengkapannya.
Angin Kencang Jadi Lawan Utama
Kalaksa BPBD Banyuwangi Partana mengatakan, kondisi angin menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya pemadaman. Kobaran api dapat dengan cepat merambat ketika angin bertiup kencang.
“Api yang membakar TWA Kawah Ijen ini cukup cepat merambat. Tiupan angin yang kencang membuat api semakin membesar dan menjalar lebih jauh,” ujar Partana.
Menurut dia, jumlah personel yang berada di lapangan cukup banyak. Pergerakan mereka juga diperkuat para relawan yang turut membantu memadamkan api.
Mesin semprot menjadi salah satu peralatan yang diandalkan. Petugas berupaya melakukan penyemprotan pada bagian-bagian yang memungkinkan untuk mencegah kobaran api terus merambat.
“Api yang menjalar ujungnya kita upayakan penyemprotan, agar tidak terus menjalar semakin parah,” katanya.
Namun, upaya pemadaman tidak semudah mengarahkan selang ke titik api. Karhutla terjadi di kawasan dengan kontur medan yang sulit. Jarak titik api yang cukup jauh juga menjadi persoalan tersendiri bagi personel di lapangan.
Posko Didirikan, Pendakian Ditutup
Untuk memperkuat koordinasi penanganan, posko didirikan di kawasan Paltuding. Posko tersebut berada berdampingan dengan posko milik Pemkab Bondowoso mengingat lokasi kebakaran juga berkaitan dengan wilayah administratif Kabupaten Bondowoso.
“Posko ini berdampingan dengan Posko milik Pemkab Bondowoso, karena lokasi kebakaran juga masuk Pemkab Bondowoso,” ungkap Partana.
Hingga kini, luasan lahan yang terbakar belum dapat dipastikan. Kondisi api yang masih bergerak dan terus dipengaruhi embusan angin membuat proses pendataan belum bisa dilakukan secara final.
Situasi tersebut juga menjadi pertimbangan utama dalam aspek keselamatan. Pemkab Banyuwangi menutup seluruh aktivitas pendakian Kawah Ijen sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Partana meminta calon pendaki tidak memaksakan diri untuk naik selama kondisi belum dinyatakan aman.
“Demi keamanan semua pendakian ditutup sampai batas waktu belum dapat ditentukan. Semua pendaki kita harapkan tidak memaksa melakukan pendakian demi keselamatan,” jelasnya.
Berharap Pemadaman dari Udara
Penanganan karhutla ini juga telah dikoordinasikan dengan BPBD Provinsi. Salah satu pertimbangannya adalah lokasi titik api yang berada cukup jauh dengan medan yang tidak mudah dilalui personel maupun kendaraan.
Kondisi tersebut membuat pemadaman dari darat menghadapi banyak keterbatasan. Karena itu, opsi pemadaman melalui udara diharapkan dapat membantu menjangkau titik-titik api yang sulit didatangi dari jalur darat.
“Kesulitan kita medannya. Makanya kita tentu harapannya ada pemadaman lewat udara agar api dapat dipadamkan,” harap Partana.
Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung, BPBD Banyuwangi juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan.
Masyarakat diminta mengelola sampah dengan benar. Jika belum dapat dikelola, sampah sebaiknya ditimbun terlebih dahulu dan tidak dibakar, terutama di kawasan yang berdekatan dengan hutan dan lahan kering.
Imbauan tersebut semakin penting karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga November. September juga disebut menjadi salah satu periode puncak musim kemarau sehingga kondisi vegetasi yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar.
“Jangan sembarang melakukan pembakaran meski alasannya membakar sampah. Sesuai prediksi BMKG, musim kemarau masih hingga November mendatang, sedangkan September ini masuk puncak musim kemarau,” pungkasnya. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin