30 Km Ditempuh 7 Jam, Kisah Kholid Terjebak Macet Horor Ketapang Banyuwangi

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 06:00 WIB
MACET DUA ARAH: Kholid Mawardi terjebak macet di kawasan Bangsring. Sedianya dia pulang dari rumah mertuanya di Desa Alasbuluh menuju tempat tinggalnya di Graha Blambangan, Glagah. (Kholid Mawardi for Radar Banyuwangi)
MACET DUA ARAH: Kholid Mawardi terjebak macet di kawasan Bangsring. Sedianya dia pulang dari rumah mertuanya di Desa Alasbuluh menuju tempat tinggalnya di Graha Blambangan, Glagah. (Kholid Mawardi for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Perjalanan pulang sejauh sekitar 30 kilometer berubah menjadi perjuangan tujuh jam bagi Kholid Mawardi. Warga Perumahan Graha Blambangan, Kecamatan Glagah, itu terjebak kemacetan parah di jalur menuju Pelabuhan Ketapang hingga harus memutar balik dan bermalam di rumah mertuanya di Desa Alasbuluh.

Pengalaman melelahkan itu terjadi Rabu (2/9) malam hingga Kamis (3/9) pagi. Kholid yang baru pulang dari Surabaya semula berharap bisa segera tiba di rumah. Namun, kemacetan panjang di kawasan Bangsring membuat perjalanan yang mestinya singkat berubah menjadi perjalanan penuh kesabaran.

Macet Dua Arah, Kholid Pilih Putar Balik

Sekitar pukul 20.30, Kholid meninggalkan rumah mertuanya di Desa Alasbuluh. Tujuannya jelas, pulang ke rumahnya di Graha Blambangan.

Namun, ketika mendekati kawasan Desa Bangsring, laju kendaraan mulai tersendat. Antrean kendaraan mengular. Kemacetan bahkan terjadi di kedua arah.

Kholid sempat bertahan di tengah kepadatan lalu lintas. Akan tetapi, hingga sekitar pukul 22.00, kondisi belum juga menunjukkan tanda-tanda segera terurai.

Keputusan akhirnya diambil. Daripada terus terjebak tanpa kepastian, Kholid memilih memutar balik kendaraan dan kembali ke rumah mertuanya di Alasbuluh.

“Sampai Bangsring macet total dua arah. Hingga pukul 22.00, saya terpaksa putar balik dan bermalam di rumah mertua,” ujar Kholid.

Malam itu, perjalanan pulang Kholid pun berhenti di Alasbuluh. Rumah mertua menjadi tempat beristirahat setelah perjalanan yang semula diharapkan berakhir di rumah sendiri.

Kondisi tersebut berbeda dengan perjalanan Kholid sehari sebelumnya. Saat berangkat menuju Surabaya pada Selasa (1/9), kemacetan di sekitar Pelabuhan Ketapang memang sudah ditemuinya. Namun, saat itu antrean kendaraan belum sampai menghambat perjalanan secara berarti.

“Pada hari Selasa (1/9), saya ke Surabaya, Alhamdulillah macet, cuma tidak panjang,” katanya.

Berangkat Pukul 05.00, Tiba Pukul 12.00

Kamis (3/9) pagi, Kholid kembali mencoba melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 05.00, dia meninggalkan rumah mertuanya dan mengarahkan kendaraan menuju Graha Blambangan.

Harapannya, pagi hari membuat perjalanan lebih lancar. Namun, harapan itu kembali terbentur kondisi lalu lintas di Bangsring.

“Tadi pagi (kemarin) pukul 05.00, saya balik Banyuwangi, ternyata sampai Bangsring masih macet,” tuturnya.

Kali ini Kholid memilih bertahan. Mobilnya bergerak perlahan mengikuti arus kendaraan yang padat. Jarak yang secara normal bisa ditempuh dalam waktu relatif singkat harus dilalui dengan kesabaran ekstra.

Hasilnya, perjalanan sekitar 30 kilometer tersebut menghabiskan waktu tujuh jam. Kholid baru tiba di rumah sekitar pukul 12.00.

“Lumayan, tadi pagi jarak 30 kilometer ditempuh sekitar tujuh jam, dari pukul 05.00 sampai sekitar pukul 12.00,” ujarnya.

Setibanya di rumah, rasa lega akhirnya muncul. Perjalanan panjang yang menguras waktu dan tenaga itu selesai juga.

Bagi Kholid, pengalaman tersebut menjadi gambaran betapa beratnya dampak kemacetan di kawasan Ketapang bagi masyarakat yang melintas. Rutinitas perjalanan pulang bisa berubah menjadi perjalanan berjam-jam, bahkan memaksanya bermalam di luar rumah.

“Semalam sempat macet horor, tapi saya balik kanan, nginep dulu di Alasbulu,” pungkasnya. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
macet Ketapang Kemacetan Banyuwangi Bangsring macet Kholid Mawardi pelabuhan ketapang