RADAR BANYUWANGI – Kebakaran yang menghanguskan sekitar 10 hektare lahan ilalang di Kawah Wurung, Bondowoso, membuat kawasan konservasi Ijen di Banyuwangi meningkatkan kewaspadaan. Meski titik api berada di wilayah Perhutani KPH Bondowoso, lokasinya berbatasan dengan kawasan BKSDA sehingga patroli diperketat hingga tiga kali sehari dan peralatan pemadam disiagakan di Paltuding.
Kebakaran terjadi pada Rabu (26/8) sekitar pukul 18.30. Api dilaporkan berkobar di petak 91D dan D wilayah Perhutani KPH Bondowoso.
Besarnya area yang terbakar menjadi perhatian karena kawasan Kawah Wurung berada tidak jauh dari wilayah konservasi Ijen. Pergerakan api pun terus dipantau untuk memastikan tidak terjadi perambatan menuju kawasan Banyuwangi.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 5 Banyuwangi Noviyani Utami mengatakan, pihaknya tidak ingin mengambil risiko meski titik api saat ini masih berada di luar kawasan konservasi yang menjadi kewenangan BKSDA.
“Saat ini posisi api memang berada di wilayah Perhutani Bondowoso. Namun, karena areanya berbatasan langsung dengan kawasan BKSDA, kami tetap memonitor ketat pergerakan apinya,” ujar Noviyani.
Pantau Titik Api Tiga Kali Sehari
Salah satu langkah yang dilakukan adalah meningkatkan pemantauan titik panas secara digital.
BKSDA memanfaatkan aplikasi pemantauan kebakaran hutan untuk mengecek perkembangan titik api hingga tiga kali dalam sehari. Data tersebut menjadi salah satu dasar bagi petugas untuk menentukan langkah antisipasi di lapangan.
Namun, pengawasan tidak hanya dilakukan melalui sistem digital.
Petugas juga melakukan patroli rutin menyisir kawasan yang dinilai rawan. Langkah tersebut melibatkan personel gabungan serta elemen masyarakat yang berada di sekitar kawasan.
BKSDA menggandeng Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) dan mitra pariwisata lokal untuk memperluas pengawasan.
Pelibatan masyarakat menjadi penting karena mereka berada paling dekat dengan kawasan wisata dan jalur-jalur yang berpotensi menjadi akses masuk maupun perambatan api.
Jalur Komunikasi Darurat Diaktifkan
Antisipasi juga diperkuat melalui koordinasi lintas sektor di Kecamatan Licin.
Jaringan komunikasi antara unsur kecamatan, BKSDA, TNI, dan Polri diaktifkan untuk mempercepat pertukaran informasi apabila kondisi di lapangan berubah.
Dengan sistem tersebut, informasi mengenai arah pergerakan api dapat segera diteruskan kepada petugas yang berada di wilayah Banyuwangi.
Jika api mulai bergerak mendekati kawasan konservasi, personel di lapangan disiapkan untuk mengambil tindakan pemadaman secepat mungkin.
Skema ini menjadi penting mengingat kondisi vegetasi kering dapat membuat api lebih mudah menjalar, terutama ketika cuaca mendukung penyebaran kebakaran.
Alat Pemadam Disiagakan di Paltuding
Bukan hanya personel yang disiapkan.
Peralatan pemadam kebakaran hutan dan lahan juga telah disiagakan di Paltuding, pintu masuk utama menuju kawasan wisata Kawah Ijen.
Peralatan tersebut dipersiapkan agar dapat segera digunakan apabila muncul titik api di kawasan yang berada dalam pengawasan BKSDA.
“Kami pastikan tim otomatis bergerak cepat begitu ada indikasi titik api baru,” tegas Noviyani.
Menurut dia, patroli yang digencarkan memiliki dua fungsi sekaligus. Selain mengantisipasi kebakaran, petugas juga mengawasi kemungkinan terjadinya tindak pidana kehutanan di kawasan konservasi.
Dengan demikian, pengawasan tidak berhenti setelah ancaman api mereda.
Ijen Jadi Titik Waspada
Kebakaran Kawah Wurung menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla di kawasan pegunungan tidak mengenal batas administratif.
Api yang berada di wilayah Perhutani Bondowoso tetap dapat menjadi perhatian bagi pengelola kawasan konservasi Banyuwangi karena lokasi kedua wilayah tersebut berdekatan.
Karena itu, pendekatan yang dipilih BKSDA adalah deteksi dini, patroli rutin, koordinasi lintas sektor, dan kesiapan pemadaman.
Selama api belum sepenuhnya dianggap aman dan kondisi vegetasi masih rawan terbakar, pengawasan akan terus dilakukan.
Kesimpulannya, kebakaran sekitar 10 hektare lahan ilalang di Kawah Wurung membuat kawasan Ijen meningkatkan kewaspadaan meski api belum masuk wilayah konservasi Banyuwangi. BKSDA merespons dengan pemantauan titik api hingga tiga kali sehari, patroli gabungan, aktivasi komunikasi lintas sektor, serta menyiagakan peralatan pemadam di Paltuding. (*)
Editor : Ali Sodiqin