RADAR BANYUWANGI - Foto Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin yang terduduk dan termenung di depan bangkai gerbong kereta pascakecelakaan KRL di Bekasi sempat menjadi perhatian publik di media sosial.
Foto yang diambil sekitar pukul 01.00 WIB, Selasa (28/4), itu memperlihatkan suasana duka di tengah lokasi kejadian yang masih dipenuhi puing kecelakaan.
Dalam sebuah wawancara, Direktur Utama KAI mengungkap kondisi emosional yang dirasakannya ketika berada di lokasi.
Menurutnya, ada tiga perasaan yang muncul bersamaan, yakni syok, sedih, dan bingung.
“Jadi ada tiga hal. Yang pertama syok, yang kedua sedih, yang ketiga bingung,” ujarnya.
Rasa syok, kata dia, tidak terlepas dari sudut pandangnya sebagai seorang insinyur.
Ia menilai sistem proteksi dan pengaturan perjalanan kereta api telah dirancang dengan tingkat pengamanan yang ketat.
Karena itu, kemungkinan terjadinya kecelakaan fatal dalam kondisi normal semestinya sangat kecil.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan kenyataan berbeda.
Sebuah mobil taksi yang mogok di perlintasan kemudian memicu rangkaian peristiwa hingga terjadi tabrakan beruntun KRL.
Selain terkejut, kesedihan menjadi perasaan lain yang kuat.
Dampak kecelakaan tersebut bukan hanya berupa kerusakan pada rangkaian kereta, tetapi juga menyentuh kehidupan banyak orang.
Menurut penuturan Dirut KAI, sebanyak 124 korban harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Dari jumlah tersebut, 16 orang meninggal dunia.
“Waktu itu ada 124 korban yang harus dirawat di rumah sakit, di mana 16-nya itu korban jiwa. Satu kejadian saja itu bisa mengubah masa depan seseorang,” katanya.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Garuda TV