RADAR BANYUWANGI - Duka menyelimuti kegiatan karnaval umum dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Minggu sore (23/8).
Seorang peserta, Bonari Wibowo, 45, warga Dusun Tembakur, Desa Sumbermulyo meninggal usai mengalami serangan jantung di tengah kemeriahan pawai budaya yang diiringi suara sound horeg tersebut.
Awalnya, kemeriahan karnaval menyusuri rute sepanjang 2,5 kilometer itu berjalan lancar sejak dilepas Forkopimka Pesanggaran sekitar pukul 14.00 WIB.
Bonari yang tergabung dalam rombongan RT-nya tampak bersemangat menyusuri rute bersama puluhan kelompok peserta lainnya.
Namun, menginjak pukul 17.15 WIB, kondisi kesehatan korban mendadak menurun hingga muntah-muntah dan sempat diistirahatkan di atas bak mobil pikap.
"Kondisinya sempat agak mendingan setelah diistirahatkan di atas pikap. Dia juga masih bisa berinteraksi dan ngobrol biasa dengan kawan-kawannya," ungkap Kapolsek Pesanggaran, AKP Agus Hari Widodo.
Nahas, tak lama setelah kembali bergabung ke dalam rombongan barisan karnaval, fisik Bonari kembali melemah secara drastis saat hari mulai gelap.
"Sekitar pukul 19.00 korban mendadak mengeluh sesak napas berat dan tubuhnya langsung lemas. Warga bergegas melarikan ke Puskesmas Pesanggaran," jelas Kapolsek.
Sayang, takdir berkata lain.
Nyawa korban tidak tertolong tak lama setelah tiba di fasilitas kesehatan tersebut.
Petugas medis yang melakukan pemeriksaan luar menyatakan Bonari telah meninggal dunia.
"Dari keterangan kawan-kawan dekatnya, korban memang sering mengeluh nyeri di bagian dada. Ada perkiraan kuat almarhum memiliki riwayat sakit jantung," tambah Kapolsek Agus.
Terkait dugaan korban mengalami overdosis (OD) akibat minuman keras, polisi mengaku masih belum berani memastikan.
"Informasinya memang sempat minum minuman keras, hanya saja penyebab kematiannya berkaitan dengan itu atau tidak kami belum memastikan," terangnya.
Keluarga korban pun telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak untuk dilakukan proses otopsi medis.
Pihak keluarga yang diwakili adik kandung almarhum sudah menerima kejadian ini dengan ikhlas dan menandatangani surat pernyataan tidak berkenan diotopsi.
Jenazah Bonari Wibowo selanjutnya dimakamkan oleh pihak keluarga di TPU setempat pada Senin pagi (24/8).
Insiden memilukan di tengah parade Agustusan tersebut seketika mengubah suasana pesta rakyat menjadi sunyi penuh rasa empati.
Begitu mendengar kabar duka tersebut, seluruh peserta karnaval spontan langsung mematikan sound system.
”Sebagai bentuk penghormatan sampai ke garis finish tidak terdengar suara sound system," tegas Kepala Desa Sumbermulyo, Suhardi.
Editor : Lugas Rumpakaadi