Puluhan Jemaat GPdi Tegaldlimo Banyuwangi Gelar Aksi Damai, Tolak Pelantikan Pendeta Baru

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 05:30 WIB
SAMPAIKAN ASPIRASI: Jemaat GPdi Eferata Desa/Kecamatan Tegaldlimo menggelar aksi damai di depan gereja setempat, Rabu (12/8). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
SAMPAIKAN ASPIRASI: Jemaat GPdi Eferata Desa/Kecamatan Tegaldlimo menggelar aksi damai di depan gereja setempat, Rabu (12/8). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Rencana pelantikan pendeta baru di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdi) Tegaldlimo menuai penolakan dari jemaat. Puluhan jemaat menggelar aksi damai di depan gereja, Rabu (12/8), sembari membentangkan banner dan membawa sejumlah tulisan penolakan.

Mereka mempersoalkan penunjukan Armudianto sebagai gembala baru GPdi Eferata, Tegaldlimo. Jemaat menilai proses penunjukan tersebut tidak melibatkan atau mendapat persetujuan dari seluruh jemaat setempat.

Aksi dimulai sekitar pukul 07.30. Puluhan jemaat berkumpul di area gereja dan menyampaikan aspirasi secara damai. Selain membentangkan banner, mereka membawa kertas bertuliskan penolakan terhadap rencana pelantikan gembala baru.

Salah satu tokoh jemaat GPdi Eferata, Slamet, mengatakan aksi tersebut dilakukan untuk menyampaikan keberatan jemaat terhadap prosesi pelantikan sekaligus penunjukan Armudianto sebagai pemimpin rohani di gereja mereka.

“Kami menolak Bapak Armudianto sebagai pendeta di GPdi Eferata,” tegas Slamet.

Jemaat Klaim Tak Dilibatkan

Menurut Slamet, persoalan tersebut bermula setelah pendeta sebelumnya, Pendeta Andonikus, meninggal dunia. Setelah itu, muncul proses penunjukan pendeta baru yang kemudian mengarah kepada Armudianto.

Namun, jemaat mengaku tidak mengetahui secara jelas proses pemilihannya. Mereka juga menyebut penunjukan tersebut tidak didahului persetujuan seluruh jemaat.

Pelantikan pendeta disebut dilakukan melalui Majelis Daerah GPdi Jawa Timur. Kondisi tersebut membuat jemaat mempertanyakan mekanisme pengambilan keputusan terkait pemimpin gereja di GPdi Eferata.

Slamet mengungkapkan, keberatan sebenarnya telah disampaikan sebelum pelantikan. Sekitar satu bulan sebelumnya, jemaat telah mengirimkan surat penolakan.

Namun, menurut dia, aspirasi tersebut tidak mendapatkan tanggapan sebagaimana yang diharapkan. Surat keputusan (SK) mengenai penunjukan pendeta baru justru telah turun.

“Lantaran pendapat kami tidak didengar, kami melakukan aksi damai. Kami menolak Bapak Armudianto, cara berkomunikasi ke jemaat kurang tepat,” jelasnya.

Minta Aspirasi Jemaat Didengar

Slamet menegaskan, aksi tersebut bukan ditujukan untuk membuat kericuhan. Jemaat memilih menyampaikan penolakan melalui aksi damai agar persoalan mengenai kepemimpinan gereja dapat didengar oleh pihak-pihak terkait.

Jemaat, lanjut dia, berharap proses penunjukan pemimpin rohani mempertimbangkan aspirasi jemaat yang selama ini menjalankan kehidupan bergereja di GPdi Eferata.

“Terlihat sangat dipaksakan,” tegas Slamet.

Untuk diketahui, jumlah jemaat GPdi Tegaldlimo disebut mencapai sekitar 100 orang yang berasal dari 35 kepala keluarga (KK). Mereka tersebar di wilayah sekitar Desa Tegaldlimo.

Slamet mengatakan, sebagian besar jemaat mempertanyakan proses penunjukan karena tidak mengetahui bagaimana tahapan pemilihan dilakukan hingga akhirnya nama Armudianto ditetapkan sebagai pendeta baru.

“Kami tidak mengetahui prosesi pemilihannya. Tahunya ya sudah mau dilantik dan terlihat sangat dipaksakan,” pungkasnya. (why/aif)

Editor : Ali Sodiqin
GPdi Tegaldlimo pendeta baru aksi jemaat pelantikan pendeta Armudianto