BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang, Jawa Timur Masuk Jalur Konvergensi

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:22 WIB
BMKG mengingatkan potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia, Rabu (12/8). (Pexels/Gavin Young)
BMKG mengingatkan potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia, Rabu (12/8). (Pexels/Gavin Young)

RADAR BANYUWANGI – Masyarakat diminta mewaspadai perubahan cuaca pada Rabu (12/8). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Hujan juga dapat disertai kilat dan angin kencang.

Prakiraan tersebut berkaitan dengan keberadaan sejumlah daerah konvergensi dan konfluensi yang terbentuk di beberapa kawasan. Salah satunya memanjang hingga wilayah Jawa Timur.

Prakirawan BMKG Miftah Ali menjelaskan, jalur konvergensi terpantau mulai dari pesisir barat Sumatera Utara, Riau, perairan Samudra Hindia bagian selatan, Jawa Timur, hingga Laut Sawu. Sistem tersebut juga membentang menuju sejumlah wilayah Kalimantan, Sulawesi, Papua, serta perairan di sekitar Papua Selatan.

Keberadaan konvergensi dapat memicu pertumbuhan awan hujan di sepanjang wilayah yang dilaluinya. Kondisi itu membuat peluang terjadinya hujan meningkat, terutama ketika didukung kondisi atmosfer yang cukup lembap.

BMKG memprakirakan beberapa kota besar mengalami hujan ringan pada Rabu. Wilayah tersebut antara lain Medan, Padang, Tanjung Selor, Ambon, dan Jayapura.

Sementara itu, sejumlah kota besar lainnya diprediksi berada dalam kondisi berawan. Daerah tersebut meliputi Banda Aceh, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Jambi, Bengkulu, Pangkal Pinang, Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Samarinda, Banjarmasin, Denpasar, Mataram, Kupang, Makassar, Mamuju, Gorontalo, Kendari, Manado, Ternate, Manokwari, Nabire, hingga Merauke.

Khusus Jawa Timur, keberadaan jalur konvergensi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Meski prakiraan untuk Surabaya menunjukkan kondisi berawan, cuaca di wilayah lain tetap dapat berubah mengikuti perkembangan awan konvektif dan dinamika atmosfer setempat.

El Nino Kuat Bikin Sumsel Makin Kering

Di tengah potensi hujan di sejumlah wilayah, kondisi berbeda terjadi di Sumatera Selatan. Sehari sebelumnya, Selasa (11/8), BMKG menyampaikan bahwa fenomena El Nino berstatus kuat turut mendorong kondisi yang semakin kering di wilayah tersebut.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis mengatakan kondisi iklim di Sumsel saat ini dipengaruhi El Nino yang masih berpotensi menguat hingga mencapai kategori sangat kuat.

Dampaknya diperkirakan terasa hingga puncak musim kemarau pada Agustus-September 2026. Masyarakat di wilayah yang terdampak diminta mencermati perkembangan informasi cuaca dan iklim yang diterbitkan BMKG.

Tak hanya El Nino. Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga mulai menunjukkan penguatan. Kondisi tersebut ikut memengaruhi pasokan uap air menuju Sumatera sehingga peluang pembentukan hujan berkurang.

Situasi kering di Sumsel disebut telah terasa sejak Juni, berlanjut pada Juli, hingga memasuki awal Agustus. Kombinasi El Nino dan penguatan IOD membuat musim kemarau tahun ini perlu diantisipasi, terutama di wilayah yang memiliki potensi kekeringan lebih tinggi.

BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap mengikuti pembaruan prakiraan cuaca. Perubahan atmosfer dapat berlangsung cepat sehingga kondisi aktual di lapangan tidak selalu sama dengan gambaran umum prakiraan pada suatu hari.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
El Nino 2026 jawa timur prakiraan cuaca bmkg musim kemarau