Hutan Jati di Purwoharjo Terbakar Saat Patroli Gabungan, Penyebab Karhutla Masih Diselidiki

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 03:30 WIB
Petugas Gabungan memadamkan api yang membakar hutan jati di Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Rabu (5/8). (Agus Suhartono for Radar Banyuwangi)
Petugas Gabungan memadamkan api yang membakar hutan jati di Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Rabu (5/8). (Agus Suhartono for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Banyuwangi. Kali ini, api melalap kawasan hutan jati milik Perhutani di Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Rabu (5/8). Menariknya, titik api ditemukan ketika personel gabungan dari Polri, TNI, dan Perhutani sedang melaksanakan patroli pencegahan kebakaran pada musim kemarau.

Begitu mengetahui adanya lahan yang terbakar, petugas langsung menghentikan patroli dan bergerak memadamkan api agar tidak meluas ke kawasan hutan di sekitarnya. Hingga kini, penyebab munculnya titik api masih dalam proses penyelidikan.

Kapolsek Purwoharjo Iptu Agus Suhartono mengatakan, sebelum patroli dimulai seluruh personel mengikuti apel kesiapsiagaan penanganan karhutla sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau.

Setelah apel, tim gabungan diterjunkan untuk memeriksa sejumlah titik yang dinilai rawan kebakaran. Saat itulah petugas menemukan area hutan jati yang telah terbakar.

"Di saat melakukan pengecekan ditemukan ada lahan yang terbakar. Sehingga petugas langsung melakukan penanganan. Sedangkan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan," ujarnya.

Menurut Agus, patroli gabungan tidak hanya difokuskan pada penanganan kebakaran, tetapi juga menjadi bagian dari strategi deteksi dini untuk mencegah meluasnya titik api di kawasan hutan.

Selain menyamakan langkah seluruh personel di lapangan, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk memetakan wilayah rawan kebakaran sekaligus mengenalkan pemanfaatan teknologi pemantauan berbasis satelit.

"Apel ini bertujuan untuk mengidentifikasi area yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Kami juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi pemantauan satelit seperti SiPongi untuk pemetaan hotspot agar potensi titik api dapat terdeteksi secara real time sebelum meluas," jelasnya.

Memasuki puncak musim kemarau, kepolisian mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan maupun lahan. Aktivitas yang berpotensi memicu api diminta dihindari, terutama di sekitar kawasan hutan.

Warga diimbau tidak membakar sampah, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan karena dapat menjadi pemicu kebakaran saat vegetasi mengering.

"Di saat memasuki musim kemarau seperti ini, risiko kebakaran hutan tinggi, jadi diharapkan untuk tidak melakukan aktivitas bakar-membakar di kawasan hutan," tegas Agus.

Patroli terpadu bersama lintas instansi akan terus dilakukan selama musim kemarau sebagai langkah antisipasi munculnya titik-titik api baru di kawasan hutan Banyuwangi. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
karhutla Banyuwangi SiPongi hutan jati purwoharjo Perhutani