Kesaksian Ayah soal Tiga Bocah Hilang di Banyuwangi, Ceritanya Bikin Warga Merinding

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 04:30 WIB
Mudofir, Warga Dusun Pekiringan, Desa Sumbersari, Kecamatan Srono, menunjukkan lokasi penemuan bocah yang sempat dikabarkan hilang, Rabu (5/8). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
Mudofir, Warga Dusun Pekiringan, Desa Sumbersari, Kecamatan Srono, menunjukkan lokasi penemuan bocah yang sempat dikabarkan hilang, Rabu (5/8). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Misteri hilangnya tiga bocah saat memancing di Dusun Pekiringan, Desa Sumbersari, Kecamatan Srono, Banyuwangi, masih menjadi perbincangan warga. Setelah ditemukan selamat pada Senin malam (3/8), ketiga anak itu menceritakan pengalaman yang menurut keluarga terasa tidak biasa. Salah seorang di antaranya bahkan disebut telah tiga kali mengalami kejadian serupa, meski penyebabnya hingga kini belum diketahui.

Salah satu anak yang sempat hilang merupakan putra kedua Kepala Dusun Pekiringan, Sudaryono. Ia mengaku keluarganya diliputi kepanikan sejak sang anak tak kunjung pulang setelah berpamitan memancing pada siang hari.

"Kami sangat kebingungan dan gelisah. Sejak siang kami sekeluarga mencari ke sungai, kebun, sampai semak-semak, tetapi anak-anak tidak ditemukan," ujarnya, Rabu (5/8).

Menurut Sudaryono, pencarian berlangsung sejak siang hingga malam dengan melibatkan banyak warga. Lokasi yang akhirnya menjadi tempat ditemukannya ketiga bocah bahkan telah beberapa kali disisir.

"Kalau memang sejak awal berada di situ, seharusnya mereka bisa berteriak meminta tolong. Kami juga sudah menyisir lokasi itu berkali-kali, tapi tidak melihat maupun mendengar apa pun," katanya.

Yang membuat keluarga semakin bertanya-tanya adalah cerita yang disampaikan anak-anak setelah berhasil ditemukan. Berdasarkan penuturan Sudaryono, putranya mengaku tidak merasa tersesat ataupun ketakutan selama menghilang.

"Kata anak saya seperti sedang bermain layang-layang terus-menerus. Dia tidak merasa bahwa sudah malam dan tidak mengerti siapa yang mengajaknya," ungkapnya.

Sementara dua bocah lainnya memberikan cerita berbeda. Menurut Sudaryono, keduanya mengaku seolah sedang berjalan-jalan di kawasan pegunungan dan tidak mengetahui bagaimana akhirnya berada di sekitar pohon mahoni tempat mereka ditemukan.

"Kata mereka seperti sedang jalan-jalan di gunung. Lalu tidak merasa ada yang mengangkat sampai berada di atas pohon. Bahkan mereka mengaku tidak melihat warga yang sejak sore mencari mereka di bawah," tuturnya.

Cerita tersebut memicu beragam tanggapan di tengah masyarakat. Sebagian warga mengaitkannya dengan kepercayaan turun-temurun yang berkembang di wilayah tersebut mengenai orang yang diyakini "disembunyikan" makhluk tak kasat mata. Namun, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang dapat mengonfirmasi keyakinan tersebut ataupun menjelaskan penyebab peristiwa yang dialami ketiga anak itu.

Sudaryono mengungkapkan, kejadian serupa disebut bukan kali pertama dialami salah satu bocah tersebut.

"Hal ini bukan yang pertama kali terjadi. Bahkan, satu dari tiga bocah itu sudah mengalami kejadian serupa tiga kali dan saya pernah ikut pencariannya dua kali," terangnya.

Meski demikian, ia memilih bersyukur karena putranya bersama dua rekannya berhasil ditemukan dalam keadaan selamat tanpa mengalami luka serius. Sehari setelah kejadian, ketiganya disebut telah kembali menjalani aktivitas seperti biasa, termasuk bersekolah dan mengikuti kegiatan mengaji.

"Yang terpenting bagi kami anak-anak bisa pulang dengan selamat. Kondisi mereka normal, seperti biasanya, sudah ngaji dan sekolah," pungkasnya.

Hingga kini, belum ada penjelasan pasti mengenai penyebab ketiga bocah tersebut sempat menghilang selama beberapa jam. Peristiwa itu masih menjadi perhatian warga sekaligus memunculkan berbagai cerita yang berkembang di masyarakat, sementara penyebab sebenarnya belum dapat dipastikan. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Srono Banyuwangi Dusun Pekiringan cerita bocah kesaksian ayah bocah hilang