SMPN 1 Banyuwangi Hentikan MBG, Sekolah Soroti Banyak Makanan Tersisa

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 05:30 WIB
Pendistribusian MBG di SMPN 1 Banyuwangi beberapa waktu lalu. Sampai sekarang, siswa belum mendapatkan kiriman MBG dari SPPG di Tamanbaru. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
Pendistribusian MBG di SMPN 1 Banyuwangi beberapa waktu lalu. Sampai sekarang, siswa belum mendapatkan kiriman MBG dari SPPG di Tamanbaru. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali bergulir bersamaan dengan hari pertama masuk sekolah pada 14 Juli 2026 belum dijalankan di SMPN 1 Banyuwangi. Sekolah memutuskan menunda sementara pendistribusian makanan setelah hasil evaluasi menunjukkan sekitar 50 persen menu MBG tidak dihabiskan siswa, sehingga dikhawatirkan menimbulkan pemborosan makanan.

Keputusan tersebut diambil berdasarkan evaluasi pelaksanaan MBG pada pekan terakhir sebelum libur semester genap. Dari hasil pemantauan sekolah, banyak makanan yang tersisa karena tidak dikonsumsi hingga habis oleh para siswa.

Pihak sekolah menduga salah satu penyebabnya adalah menu yang disuplai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelurahan Tamanbaru belum sepenuhnya sesuai dengan selera sebagian siswa.

Humas SMPN 1 Banyuwangi Mazwin Mukaromah, mewakili Kepala SMPN 1 Banyuwangi Ali Mustofa, mengatakan tingginya sisa makanan menjadi pertimbangan utama untuk menghentikan sementara distribusi MBG setelah tahun ajaran baru dimulai.

"Satu minggu terakhir sebelum libur panjang, MBG yang tidak dikonsumsi oleh para siswa mencapai sekitar 50 persen. Karena itu kami memilih belum mendistribusikan MBG kembali agar makanan tidak mubazir," ujarnya.

Lunchbox Belum Jadi Kebiasaan

Sebagai upaya mengurangi makanan terbuang, sekolah sebelumnya telah mengimbau siswa membawa kotak makan (lunchbox) agar menu yang belum habis bisa dibawa pulang.

Namun, menurut Mazwin, imbauan tersebut belum berjalan optimal. Masih banyak siswa yang datang ke sekolah tanpa membawa wadah makanan.

"Banyak siswa yang tidak membawa lunchbox, sehingga makanan yang tidak habis tidak bisa dibawa pulang," katanya.

Bahkan, berdasarkan hasil evaluasi sekolah, makanan yang sudah dibawa pulang pun belum tentu dikonsumsi.

Sejumlah siswa mengaku makanan tersebut tetap tidak dimakan setelah sampai di rumah sehingga tujuan penyelamatan makanan dari pemborosan belum tercapai.

"Alasannya, ketika dibawa pulang ternyata di rumah juga tidak termakan. Itu yang menjadi perhatian kami agar MBG tidak terbuang percuma," imbuh Mazwin.

Distribusi MBG Dijadwalkan Kembali Awal Agustus

Meski distribusi dihentikan sementara, SMPN 1 Banyuwangi memastikan program MBG bukan dibatalkan. Sekolah berencana mengaktifkan kembali pendistribusian mulai 3 Agustus 2026.

Sebelum program berjalan lagi, pihak sekolah akan meningkatkan sosialisasi kepada seluruh siswa agar membiasakan membawa lunchbox sebagai langkah mengurangi sisa makanan.

Evaluasi tersebut diharapkan dapat membuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis lebih efektif, tidak hanya memastikan kebutuhan gizi siswa terpenuhi, tetapi juga mengurangi potensi pemborosan pangan sehingga tujuan program pemerintah dapat tercapai secara optimal. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Evaluasi MBG lunchbox siswa MBG Banyuwangi makan bergizi SMPN 1 Banyuwangi