RADAR BANYUWANGI – Suasana duka menyelimuti keluarga besar SMKN 1 Glagah setelah seorang siswa kelas X berinisial RDS meninggal dunia usai mendadak roboh di lingkungan sekolah, Senin (27/7). Peristiwa terjadi sesaat setelah apel pagi, ketika para siswa bersiap mengikuti kegiatan kebugaran. Meski sempat mendapatkan pertolongan pertama dan dilarikan ke rumah sakit, nyawa siswa tersebut tidak berhasil diselamatkan.
Korban merupakan siswa kelas X jurusan Agriteknologi Hasil Perikanan (APHP) 2. Menurut pihak sekolah, RDS belum sempat mengikuti aktivitas fisik ketika tiba-tiba ambruk di area sekolah.
Kepala SMKN 1 Glagah Tofik Santoso mengatakan, sebelum kegiatan kebugaran dimulai, sekolah selalu mengingatkan siswa agar tidak mengikuti aktivitas apabila kondisi tubuh kurang sehat.
Namun saat itu, RDS tidak menyampaikan keluhan apa pun sebelum mendadak roboh.
"Dia belum melakukan aktivitas. Kita juga selalu menanyakan kepada siswa kalau ada yang kurang sehat bisa tidak mengikuti kegiatan tersebut," ujar Tofik.
Melihat kejadian tersebut, siswa yang berada di sekitar lokasi segera memberikan pertolongan. RDS kemudian dibawa ke ruang kesehatan sekolah untuk mendapatkan penanganan awal.
Petugas sekolah memberikan bantuan oksigen sambil mempersiapkan proses evakuasi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Blambangan agar memperoleh penanganan medis lebih lanjut.
"Oleh para guru kemudian dibawa ke IGD untuk mendapatkan penanganan medis," katanya.
Namun, tidak lama setelah tiba di rumah sakit, dokter menyatakan RDS telah meninggal dunia.
Tofik mengaku sempat meminta penjelasan kepada tim medis mengenai kemungkinan adanya luka akibat benturan maupun tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Hasil pemeriksaan awal, kata dia, tidak menunjukkan adanya indikasi tersebut. Luka yang ditemukan hanya lecet ringan yang diduga terjadi saat korban terjatuh.
"Saya sempat bertanya kepada dokter apakah ada tanda benturan atau kekerasan yang dialami siswa. Katanya tidak ada, hanya luka lecet mungkin saat jatuh," jelasnya.
Berdasarkan informasi awal dari tim medis, penyebab kematian diduga berkaitan dengan serangan jantung. Meski demikian, pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya penjelasan medis kepada pihak berwenang dan tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab pasti meninggalnya RDS.
"Saya khawatir ada penyebab lain yang mungkin dialami siswa sebelumnya. Tapi dari keterangan dokter tidak ada," ungkap Tofik.
Kabar meninggalnya RDS dengan cepat menyebar di lingkungan sekolah. Suasana haru menyelimuti para guru dan siswa yang mengenal korban.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, guru dan sejumlah siswa mengantar jenazah RDS ke rumah dunya di Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari.
Sehari setelah kejadian, Selasa (28/7), rombongan guru dan siswa kembali mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkan.
"Guru-guru dan siswa juga akan ke sana lagi. Ini kabar duka bagi kami. Semoga keluarga besar diberikan ketabahan," pungkas Tofik.
Hingga kini, dugaan penyebab meninggalnya RDS masih mengacu pada hasil pemeriksaan awal dari tim medis. Pihak sekolah memastikan tidak ditemukan indikasi kekerasan dalam peristiwa tersebut dan mengajak seluruh keluarga besar SMKN 1 Glagah untuk mendoakan almarhum serta memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin