RADAR BANYUWANGI — Gelombang tinggi belum sepenuhnya bersahabat dengan aktivitas penyeberangan di Selat Bali. Hingga Senin (27/7), sejumlah kapal yang hendak beroperasi dilaporkan kesulitan bersandar di sekitar Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Meski demikian, layanan penyeberangan menuju Gilimanuk, Bali, masih tetap berjalan.
Pengawas Keselamatan dan Keamanan Pelayaran Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Satpel Ketapang Rahut Sianturi mengatakan, kondisi gelombang tinggi masih terpantau di perairan sekitar Pelabuhan Ketapang.
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap pergerakan kapal, khususnya ketika hendak melakukan proses sandar. Namun, aktivitas operasional pelabuhan belum sampai dihentikan sepenuhnya.
”Hingga kemarin gelombang tinggi masih terjadi di perairan sekitar Pelabuhan Ketapang. Dampaknya, beberapa kapal yang akan beroperasi kesulitan bersandar,” kata Rahut.
Meski menghadapi kondisi laut yang kurang bersahabat, aktivitas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk tetap berlangsung. Otoritas pelabuhan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan kondisi gelombang sebagai dasar pengambilan keputusan operasional.
”Untuk operasional pelabuhan tetap berjalan. Tidak sampai berhenti,” tegasnya.
Sempat Ditutup 2 Jam 35 Menit
Gangguan akibat cuaca buruk sebelumnya sempat membuat layanan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk dihentikan sementara pada Minggu (26/7).
Penutupan dilakukan setelah kondisi gelombang tinggi dan angin kencang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran. Layanan penyeberangan ditutup mulai pukul 11.15 WIB.
Selama penutupan, aktivitas kapal penyeberangan dihentikan sementara sebagai langkah antisipasi terhadap risiko yang dapat muncul akibat kondisi laut yang tidak kondusif.
Setelah kondisi perairan dinilai kembali memungkinkan untuk pelayaran, layanan penyeberangan dibuka kembali pada pukul 13.50 WIB.
Dengan demikian, penutupan lintasan Ketapang-Gilimanuk berlangsung sekitar 2 jam 35 menit.
Keputusan untuk menutup sementara layanan tersebut diambil sebagai bagian dari upaya otoritas pelabuhan mengutamakan keselamatan penumpang, awak kapal, maupun kendaraan yang menggunakan jasa penyeberangan.
Pelayaran kembali dibuka setelah hasil pemantauan menunjukkan dinamika cuaca di Selat Bali mulai mereda dan kondisi perairan dinilai lebih aman bagi kapal feri.
Cuaca Terus Dipantau
Rahut menegaskan, kondisi operasional penyeberangan sangat bergantung pada perkembangan cuaca dan gelombang di Selat Bali. Karena itu, otoritas pelabuhan tidak menutup kemungkinan melakukan penyesuaian layanan apabila kondisi perairan kembali memburuk.
”Kita terus melakukan pemantauan cuaca. Jika kondisi gelombang terlalu tinggi, penyeberangan akan menyesuaikan untuk menunggu sampai kembali normal,” tegasnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk merupakan salah satu jalur penyeberangan tersibuk yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali.
Bagi pengguna jasa, perubahan pola operasional dapat terjadi sewaktu-waktu mengikuti perkembangan kondisi laut. Karena itu, masyarakat yang hendak menyeberang diimbau memperhatikan informasi terbaru dari otoritas pelabuhan sebelum melakukan perjalanan.
Sementara itu, petugas di lapangan terus memastikan setiap keputusan terkait operasional kapal dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan. Penyeberangan tetap diupayakan berjalan, namun keselamatan pelayaran menjadi prioritas utama ketika gelombang tinggi kembali mengancam perairan Selat Bali. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin