Gelombang Selat Bali Capai 1,2 Meter, Operator Kapal Ketapang-Gilimanuk Diminta Waspada

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 02:00 WIB
DEBUR OMBAK: Ombak tinggi menghantam bibir pantai deretan warung Watudodol, Senin (27/7). Pengguna jasa penyeberangan laut diminta untuk berhati-hati dan terus memantau kondisi cuaca. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
DEBUR OMBAK: Ombak tinggi menghantam bibir pantai deretan warung Watudodol, Senin (27/7). Pengguna jasa penyeberangan laut diminta untuk berhati-hati dan terus memantau kondisi cuaca. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI — Perairan Selat Bali mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas gelombang seiring puncak musim kemarau periode Juni-Juli-Agustus (JJA). Tinggi gelombang di jalur penyeberangan Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk kini terpantau mencapai sekitar 1,2 meter, sementara kecepatan angin di kawasan tersebut bisa menembus lebih dari 20 knot.

Meski kondisi itu masih dinilai kondusif bagi pelayaran kapal feri, operator kapal, nakhoda, awak kapal, nelayan, hingga pelaku wisata bahari diminta tidak lengah. Perubahan kondisi laut dapat terjadi sewaktu-waktu, terlebih pola monsun timuran masih berlangsung dan diperkirakan berpotensi memengaruhi perairan hingga akhir Agustus.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi menyebut peningkatan gelombang di Selat Bali salah satunya dipengaruhi rambatan gelombang dari Samudra Hindia. Gelombang dari perairan selatan Jawa bergerak menuju Selat Bali dan turut memengaruhi kondisi perairan di jalur penyeberangan Banyuwangi-Bali tersebut.

Prakirawan BMKG Banyuwangi Yudi Nugraha mengatakan, memasuki periode Juli hingga Agustus, tinggi gelombang berpotensi meningkat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

”Bulan Juli memasuki Agustus, tinggi gelombang akan semakin naik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya,” ujarnya.

Pantai Satpolairud Diterjang Ombak

Peningkatan aktivitas gelombang juga mulai terlihat di sejumlah kawasan pesisir Banyuwangi. Bagian belakang markas Satpolairud Polresta Banyuwangi bahkan beberapa kali diterjang hempasan air laut.

Sejumlah kapal nelayan juga dilaporkan memilih menepi untuk menghindari risiko akibat kondisi gelombang yang meningkat.

Kasatpolairud Polresta Banyuwangi Kompol M. Wahyudi mengatakan, gelombang sedang hingga tinggi disertai angin kencang telah terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan pengalaman kondisi cuaca pada tahun-tahun sebelumnya, situasi tersebut masih berpotensi berlangsung hingga Agustus.

Karena itu, pihaknya meminta seluruh masyarakat yang beraktivitas di perairan Selat Bali meningkatkan kewaspadaan. Imbauan tersebut juga berlaku bagi perusahaan penyeberangan, operator kapal, nelayan, pelaku wisata bahari, hingga masyarakat yang memiliki hobi memancing.

"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat pesisir, nelayan, operator kapal, pelaku wisata bahari, termasuk teman-teman yang hobi memancing untuk selalu memantau BMKG dan menunda aktivitas jika cuaca tidak mendukung atau terlihat gelombang tinggi," kata Wahyudi.

Gelombang 1,2 Meter Masih Kondusif untuk Feri

Berdasarkan pemantauan terkini BMKG, tinggi gelombang di jalur penyeberangan Selat Bali berada di kisaran 1,2 meter.

Yudi menjelaskan, kondisi tersebut masih tergolong kondusif untuk aktivitas penyeberangan menggunakan kapal feri. Namun, kondisi laut tetap perlu diwaspadai karena tinggi gelombang dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca dan arah angin.

”Untuk penyeberangan memakai kapal feri masih kondusif. Namun, kami tetap mengarahkan agar waspada terhadap perubahan kondisi gelombang yang sewaktu-waktu bisa lebih tinggi,” jelasnya.

Selain tinggi gelombang, kecepatan angin menjadi faktor lain yang harus diperhatikan oleh para pelaku pelayaran.

Menurut Yudi, kecepatan angin di wilayah perairan Selat Bali dapat mencapai lebih dari 20 knot. Angin dengan kecepatan tersebut berpotensi membuat kondisi pelayaran berubah dan menjadi kurang bersahabat.

Kondisi yang lebih ekstrem berpotensi terjadi di perairan selatan. Berdasarkan model BMKG, tinggi gelombang di perairan selatan Bali bahkan dapat mencapai rata-rata 2 meter.

Monsun Timuran Masih Berlangsung

Peningkatan kecepatan angin dan gelombang tersebut tidak terlepas dari pengaruh monsun timuran yang masih berlangsung.

Pola angin tersebut membawa kecepatan angin yang cenderung lebih kencang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. BMKG memperkirakan kondisi tersebut masih berpotensi berlangsung hingga akhir Agustus.

Bagi operator penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, kondisi ini menjadi pengingat penting untuk tidak hanya mengandalkan kondisi cuaca saat kapal hendak berangkat.

Nakhoda dan awak kapal perlu terus memantau perkembangan cuaca secara berkala karena kondisi gelombang laut dapat berubah dalam hitungan jam, dari pagi hingga malam hari.

”Kami mengimbau para awak kapal maupun yang bertugas di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca. Pantau terus informasi terkini dari BMKG melalui media sosial maupun WhatsApp group yang kami informasikan,” pesannya.

Kewaspadaan menjadi semakin penting karena Selat Bali merupakan jalur penyeberangan yang vital dan memiliki aktivitas pelayaran cukup padat. Meski tinggi gelombang saat ini masih aman untuk kapal feri, kondisi tersebut bukan berarti pelaku pelayaran dapat mengabaikan perubahan cuaca.

Dengan potensi angin kencang dan peningkatan gelombang hingga akhir Agustus, pemantauan informasi BMKG menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan perjalanan laut tetap aman.

Sebab, di tengah dinamika cuaca laut yang cepat berubah, keputusan untuk menunda aktivitas ketika kondisi tidak mendukung dapat menjadi pilihan paling tepat untuk mencegah risiko kecelakaan di perairan. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
cuaca Banyuwangi Gelombang Selat Bali Pelabuhan Gilimanuk pelabuhan ketapang BMKG Banyuwangi