Pencarian Nelayan dan Pemancing Hilang di Grajagan Banyuwangi Masih Nihil hingga Hari Ketiga

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 23:30 WIB
Tim SAR gabungan menyusuri area Pelabuhan Grajagan untuk mencari korban kapal nelayan terbalik yang hingga Rabu (22/7) belum ditemukan. (Basarnas for Radar Banyuwangi)
Tim SAR gabungan menyusuri area Pelabuhan Grajagan untuk mencari korban kapal nelayan terbalik yang hingga Rabu (22/7) belum ditemukan. (Basarnas for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Operasi pencarian dan penyelamatan (search and rescue/SAR) terhadap dua korban yang hilang di perairan Banyuwangi masih belum membuahkan hasil. Memasuki hari ketiga, Rabu (22/7), tim SAR gabungan memperluas area penyisiran di laut maupun sepanjang garis pantai untuk mencari korban kapal nelayan terbalik di Grajagan dan seorang pemancing cumi yang hilang di Perairan Muncar.

Korban yang masih dalam pencarian yakni Lukman, 25, warga Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, yang hilang setelah kapal nelayan terbalik di Perairan Grajagan. Sementara korban lainnya adalah Hambali, 60, warga Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, yang dilaporkan hilang saat memancing cumi di Perairan Muncar.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, I Made Oka Astawa, mengatakan operasi SAR di Grajagan dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan mengerahkan dua search and rescue unit (SRU) untuk mempercepat pencarian.

SRU pertama melakukan penyisiran di atas permukaan laut menggunakan rubber boat Basarnas dan jukung nelayan. Tim menerapkan pola parallel search pattern di area pencarian seluas sekitar lima mil laut persegi.

Sementara itu, SRU kedua menyisir secara visual sepanjang Pantai Grajagan ke arah timur hingga sekitar sembilan kilometer. Penyisiran darat dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan korban terbawa arus dan terdampar di bibir pantai.

"SRU pertama melakukan penyisiran di atas permukaan laut menggunakan rubber boat Basarnas dan jukung nelayan dengan pola parallel search pattern pada area pencarian sekitar lima mil laut persegi. Sementara SRU kedua melaksanakan penyisiran visual di sepanjang Pantai Grajagan ke arah timur sejauh kurang lebih sembilan kilometer," jelas Oka Astawa.

Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur SAR, mulai dari Tim Rescue Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, TNI, Polri, Damkarmat Banyuwangi, Dinas Perikanan Grajagan, BPBD Provinsi Jawa Timur, SAR Tangi, Mapala Poliwangi, Mahapalus Untag, hingga nelayan setempat.

Menurut Oka Astawa, sinergi lintas instansi menjadi faktor penting dalam memperluas jangkauan pencarian di wilayah perairan maupun pesisir.

"Kolaborasi seluruh unsur SAR menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan operasi ini. Kami berharap korban yang masih hilang dapat segera ditemukan sehingga dapat diserahkan kepada pihak keluarga. Kami juga mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, agar selalu memperhatikan kondisi cuaca dan mengutamakan aspek keselamatan saat melaut," katanya.

Selama operasi berlangsung, cuaca di kawasan Grajagan terpantau cerah berawan dengan tinggi gelombang berkisar antara satu hingga 1,5 meter. Kondisi tersebut dinilai masih mendukung pelaksanaan pencarian, meski seluruh personel tetap diminta mengutamakan keselamatan.

Namun hingga operasi hari ketiga berakhir, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan Lukman.

"Hasil SAR hari ketiga masih belum menemukan adanya tanda-tanda keberadaan korban yang hilang di Perairan Grajagan," terang Oka Astawa.

Di lokasi berbeda, operasi pencarian terhadap Hambali juga terus dilakukan. Kanit Satpolairud Muncar Aipda Wayan Wedana mengatakan tim gabungan memfokuskan penyisiran di kawasan Perairan Tanjung Sembulungan yang menjadi lokasi terakhir korban diduga berada.

"Untuk pencarian Hambali, pemancing cumi yang hilang juga masih belum ditemukan," pungkasnya. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Perairan Muncar SAR Grajagan Basarnas Banyuwangi pencarian korban Nelayan Hilang