Armada Menua, Personel Terbatas, Damkarmat Banyuwangi Minta Tambah Pos di Wongsorejo

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 21:30 WIB
Warga bersama petugas gotong royong memadamkan api pada gudang kayu di Desa Sidorejo, Kecamatan Purwoharjo pada 7 Juni lalu. (Agus Suhartono for Radar Banyuwangi)
ILUSTRASI: Warga bersama petugas gotong royong memadamkan api pada gudang kayu di Desa Sidorejo, Kecamatan Purwoharjo pada 7 Juni lalu. (Agus Suhartono for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Banyuwangi menghadapi tantangan berat di tengah tingginya kebutuhan layanan masyarakat. Hingga Juni 2026, instansi tersebut telah menangani 596 kejadian, namun beban kerja itu belum diimbangi dengan ketersediaan armada, personel, pos sektor, maupun fasilitas pendukung yang memadai.

Data Damkarmat Banyuwangi mencatat, dari total 596 penanganan, sebanyak 512 merupakan operasi penyelamatan (rescue) dan 84 kasus kebakaran. Kondisi itu menggambarkan bahwa tugas petugas pemadam kini tak lagi sebatas memadamkan api, tetapi juga menangani berbagai situasi darurat yang membutuhkan respons cepat.

Kepala Damkarmat Banyuwangi Edy Supriyono mengungkapkan, persoalan paling mendesak saat ini adalah armada operasional yang sebagian besar sudah berusia tua.

"Kendaraan armada Damkarmat sudah tua dan kurang. Sekarang hanya ada delapan unit, yang terbaru keluaran 2017. Selain itu, ada mobil Kijang dan Chery yang masih kita operasikan dalam menjalankan tugas," ujarnya.

Menurut Edy, jumlah kendaraan tersebut belum sebanding dengan luas wilayah Banyuwangi yang harus dilayani. Apalagi, ketika beberapa kejadian berlangsung dalam waktu bersamaan di lokasi yang saling berjauhan, keterbatasan armada menjadi kendala serius dalam mempercepat respons petugas.

Tak hanya armada, kekurangan personel juga menjadi tantangan besar. Saat ini Damkarmat Banyuwangi memiliki sekitar 50 pegawai dan 13 relawan. Namun, petugas yang benar-benar bertugas di lapangan hanya sekitar 30 orang untuk melayani seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi.

Selain mengandalkan sumber daya manusia yang terbatas, Damkarmat juga harus memenuhi kebutuhan operasional setiap hari. Mulai dari pengadaan bahan bakar minyak (BBM), biaya perawatan kendaraan, hingga penyediaan obat-obatan bagi petugas usai melakukan pemadaman, terutama saat harus menangani beberapa insiden dalam satu hari.

"Namun selalu kami upayakan yang terbaik dalam melaksanakan pelayanan masyarakat walaupun tempatnya jauh dan kami kekurangan peralatan," kata Edy.

Kondisi tersebut semakin diperberat dengan minimnya pos sektor. Saat ini Damkarmat Banyuwangi hanya memiliki tiga pos, masing-masing berada di Kecamatan Bangorejo, Srono, dan Genteng. Jumlah itu dinilai belum cukup untuk mempercepat jangkauan layanan ke seluruh wilayah.

Edy menilai Kecamatan Wongsorejo menjadi salah satu wilayah yang mendesak untuk memiliki pos sektor baru. Selain memiliki tingkat kejadian kebakaran dan operasi penyelamatan yang cukup tinggi, jarak tempuh dari pos yang ada saat ini dinilai terlalu jauh sehingga berpotensi memperlambat penanganan.

"Damkarmat butuh adanya sektor di Wongsorejo. Jika ada kejadian di sana butuh waktu yang lama sehingga rawan terjadi keterlambatan," tegasnya.

Tak hanya itu, hingga kini Damkarmat Banyuwangi juga belum memiliki unit ambulans sendiri. Akibatnya, ketika terdapat korban dalam suatu kejadian, petugas harus berkoordinasi dengan instansi lain untuk mengirimkan ambulans ke lokasi.

"Damkarmat Banyuwangi sedari dulu tidak ada unit ambulans yang sangat dibutuhkan ketika melakukan penanganan kejadian. Jika ada korban, kami tidak bisa langsung menangani dan harus menghubungi pihak lainnya untuk mengirim pertolongan ambulans," pungkas Edy. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
armada damkar personel damkar pos Wongsorejo Damkarmat Banyuwangi kebakaran Banyuwangi