RADARBANYUWANGI.ID - Puluhan bungker pertahanan peninggalan pendudukan Jepang yang tersebar di sejumlah kawasan pesisir dan perbukitan Banyuwangi kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Sebagian besar bangunan beton peninggalan era Perang Dunia II itu tertimbun tanah, tertutup semak belukar, hingga terancam rusak akibat abrasi pantai dan alih fungsi lahan.
Situs-situs pertahanan tersebut tersebar di sejumlah titik strategis, mulai kawasan pesisir Wongsorejo, Kalipuro, Pantai Boom, hingga kawasan Taman Nasional Alas Purwo di ujung selatan Banyuwangi. Seluruhnya dibangun oleh Militer Pasifik Jepang pada periode 1942–1945 sebagai bagian dari sistem pertahanan untuk mengawasi Selat Bali yang menjadi jalur pelayaran penting penghubung Laut Jawa dan Samudra Hindia, sekaligus mengantisipasi serangan balasan pasukan Sekutu.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, bungker dibangun menggunakan konstruksi beton cor dengan ketebalan dinding mencapai 30 hingga 50 sentimeter. Struktur tersebut dirancang untuk menahan gempuran meriam kapal perang maupun serangan bom udara yang menjadi ancaman utama dalam peperangan saat itu.
Selain kokoh, setiap bungker memiliki karakteristik arsitektur militer yang khas. Pada bagian depan terdapat celah pengintai horizontal yang menghadap langsung ke laut sehingga prajurit dapat memantau pergerakan kapal musuh dengan perlindungan maksimal.
Di beberapa sisi bangunan juga terdapat lubang tembak senjata mesin yang dirancang dengan sudut menyilang untuk menyapu area pantai apabila terjadi upaya pendaratan pasukan lawan.
Sementara itu, sejumlah bungker di kawasan perbukitan Kalipuro diketahui memiliki lorong bawah tanah sempit yang saling terhubung. Jalur tersebut diduga dimanfaatkan sebagai akses evakuasi sekaligus ruang penyimpanan logistik dan amunisi selama masa perang.
Namun, kondisi fisik bangunan kini terus mengalami penurunan. Di kawasan pesisir utara Banyuwangi, beberapa bungker mengalami retak cukup parah dan sebagian terendam air laut saat pasang akibat abrasi yang terus mengikis garis pantai selama puluhan tahun.
Di lokasi lain, sejumlah pintu masuk bungker telah tertutup longsoran tanah. Bahkan, beberapa bangunan kini berada di halaman belakang rumah warga maupun di area perkebunan swasta tanpa dilengkapi papan informasi ataupun penanda sebagai situs sejarah.
Warga di sekitar Wongsorejo menyebut kawasan bungker tersebut dahulu dikenal angker sehingga jarang didatangi masyarakat. Seiring berkembangnya permukiman dan aktivitas pembukaan lahan, termasuk pertambangan batu dan pasir di kawasan perbukitan, keberadaan sejumlah bungker semakin terancam karena berpotensi tertimbun maupun terbongkar akibat aktivitas tersebut.
Melihat kondisi itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi bersama Tim Ahli Cagar Budaya serta komunitas sejarah lokal mulai menggencarkan pemetaan ulang terhadap titik-titik bungker yang masih tersisa. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pendataan sekaligus menjadi dasar penyusunan strategi pelestarian situs bersejarah tersebut.
Kalangan pegiat sejarah menilai benteng-benteng pendem itu merupakan bukti otentik bahwa Banyuwangi pernah memegang posisi geopolitik dan militer yang sangat penting di kawasan Jawa Timur pada masa Perang Pasifik. Karena itu, keberadaannya dinilai layak mendapat perlindungan agar jejak sejarah tersebut tidak hilang akibat kerusakan alam maupun aktivitas manusia.
Editor : Lugas Rumpakaadi