Ombak Selatan Banyuwangi Kembali Makan Korban, BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 21:30 WIB
OMBAK BESAR: Kondisi Ombak besar di perairan Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. (Wayan for Radar Banyuwangi)
OMBAK BESAR: Kondisi Ombak besar di perairan Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. (Wayan for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Ganasnya ombak di perairan selatan Banyuwangi kembali memakan korban. Belum genap sepekan setelah seorang nelayan tewas tenggelam akibat dihantam gelombang, kecelakaan laut kembali terjadi. Sebuah kapal pencari ikan terbalik diterjang ombak besar di kawasan Plawangan Pantai Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Senin (20/7), memperkuat peringatan bahwa perairan selatan Jawa sedang berada dalam kondisi berbahaya.

Rangkaian insiden tersebut terjadi di tengah peringatan dini cuaca yang telah dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Lembaga itu memprediksi gelombang laut di pesisir selatan Banyuwangi mencapai kategori sedang, yakni 1,25 hingga 2,5 meter, selama periode 19–22 Juli 2026.

Kanit Airud Polsek Pesanggaran Aipda I Wayan Wedhana mengatakan, dalam kurun waktu kurang dari sepekan telah terjadi dua kecelakaan laut di wilayah perairan selatan Banyuwangi.

Insiden pertama menimpa Jafar Sodik, 36, nelayan asal Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, yang tenggelam setelah dihantam ombak besar pada Rabu (15/7). Belum reda duka tersebut, kecelakaan serupa kembali terjadi ketika sebuah kapal pencari ikan terbalik di kawasan Plawangan Pantai Grajagan.

"Beberapa hari lalu pemanah ikan dihantam ombak besar, sekarang di Plawangan juga ada laka laut," ujar Wayan saat dikonfirmasi.

Rentetan kejadian itu menjadi alarm bagi nelayan maupun pelaku pelayaran yang beraktivitas di perairan selatan Banyuwangi. Kawasan tersebut dikenal memiliki karakter ombak yang tinggi, terutama saat musim angin timur.

Prakirawan BMKG Banyuwangi, Umar Haidar, menjelaskan bahwa peningkatan tinggi gelombang dipengaruhi dominasi angin timuran yang masih bertiup cukup kuat di wilayah selatan Pulau Jawa.

"Terkait kondisi gelombang di perairan selatan Jawa, salah satu faktor utamanya adalah angin. Saat ini angin timuran masih cukup dominan, sehingga berkontribusi signifikan terhadap pembangkitan gelombang," jelasnya.

Menurut Umar, kondisi geografis perairan selatan Jawa yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia turut memperbesar energi gelombang. Wilayah tersebut memiliki lintasan angin (fetch) yang panjang sehingga energi angin terus terakumulasi dan menghasilkan gelombang yang lebih tinggi serta lebih kuat dibandingkan perairan yang terlindung.

Karakteristik itu membuat gelombang di pesisir selatan Banyuwangi dapat meningkat secara signifikan meski kondisi cuaca di daratan tampak normal.

BMKG mengingatkan nelayan untuk tidak mengabaikan peringatan dini yang telah diterbitkan. Berdasarkan analisis meteorologi, aktivitas melaut memiliki risiko tinggi ketika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang mencapai lebih dari 1,25 meter.

"Nelayan yang melaut berisiko tinggi apabila kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter," tegas Umar.

BMKG mengimbau nelayan, operator kapal kecil, hingga masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir agar terus memantau informasi cuaca dan gelombang sebelum berlayar. Menghindari aktivitas di laut saat gelombang tinggi dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mencegah bertambahnya korban kecelakaan laut di perairan selatan Banyuwangi. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
ombak Banyuwangi Gelombang Tinggi BMKG Banyuwangi pantai grajagan Laka Laut