Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas di Jawa, Suhu Capai 34 Derajat Celsius, Tegaskan Bukan Gelombang Panas

Anita Rahma • Selasa, 14 Juli 2026 | 19:04 WIB
Ilustrasi - Cuaca panas di Pulau Jawa. (Pexels/Fatih Turan)
Ilustrasi - Cuaca panas di Pulau Jawa. (Pexels/Fatih Turan)

RADARBANYUWANGI.ID - Dalam beberapa pekan terakhir, masyarakat di berbagai kota di Pulau Jawa, termasuk Surabaya hingga Banyuwangi, merasakan cuaca yang jauh lebih panas dibanding biasanya. Kondisi ini memicu berbagai keluhan karena sengatan matahari terasa lebih menyengat, terutama pada siang hari.

Berdasarkan pemantauan, suhu maksimum harian di sejumlah wilayah bahkan mencapai kisaran 33 hingga 34 derajat Celsius. Fenomena tersebut kemudian ramai disebut masyarakat sebagai "Jawa Membara".

Menanggapi kondisi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa cuaca panas yang dirasakan saat ini dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor meteorologis dan bukan merupakan fenomena gelombang panas atau heatwave.

BMKG menjelaskan, salah satu penyebab utama adalah posisi gerak semu tahunan matahari yang kini bergerak ke arah selatan. Kondisi tersebut membuat intensitas penyinaran matahari ke wilayah Pulau Jawa menjadi lebih optimal sehingga radiasi panas yang diterima permukaan bumi meningkat.

Selain itu, dinamika atmosfer saat ini juga didominasi kondisi langit cerah dengan tutupan awan yang relatif minim. Berkurangnya awan menyebabkan sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi tanpa banyak hambatan sehingga suhu udara terasa lebih terik pada siang hingga sore hari.

Faktor lainnya adalah dominasi Angin Monsun Australia yang menjadi ciri musim kemarau di Indonesia. Angin ini bersifat kering sehingga kelembapan udara menurun dan udara terasa lebih panas dibandingkan saat musim hujan.

Meski suhu udara terasa menyengat, BMKG memastikan kondisi yang terjadi di Pulau Jawa tidak termasuk kategori gelombang panas.

Menurut BMKG, secara internasional suatu wilayah baru dinyatakan mengalami heatwave apabila suhu maksimum harian meningkat lebih dari 5 derajat Celsius di atas rata-rata klimatologis dan berlangsung sedikitnya selama lima hari berturut-turut.

Kondisi tersebut berbeda dengan Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan dikelilingi perairan luas. Laut berperan sebagai penyangga atau penyeimbang suhu sehingga lonjakan temperatur ekstrem dalam waktu lama relatif jarang terjadi.

Karena itu, cuaca panas yang dirasakan masyarakat saat ini merupakan bagian dari karakteristik musim kemarau yang diperkuat oleh kondisi atmosfer dan posisi matahari, bukan fenomena gelombang panas seperti yang terjadi di sejumlah negara Eropa.

BMKG memperkirakan kondisi cuaca panas masih dapat berlangsung secara fluktuatif hingga memasuki masa peralihan musim. Oleh sebab itu, masyarakat diminta tetap menjaga kesehatan selama beraktivitas.

Beberapa langkah yang disarankan antara lain memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi, meskipun tidak merasa haus. Saat beraktivitas di luar ruangan, masyarakat juga dianjurkan menggunakan tabir surya, topi, atau kacamata hitam guna mengurangi paparan langsung sinar ultraviolet.

Aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dibatasi, terutama pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB ketika intensitas penyinaran matahari berada pada puncaknya. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kelelahan akibat panas maupun gangguan kesehatan terkait paparan suhu tinggi.

BMKG juga mengimbau masyarakat agar rutin memantau prakiraan cuaca serta informasi Indeks Sinar UV melalui kanal resmi BMKG maupun aplikasi Info BMKG sehingga dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca terkini.

Editor : Lugas Rumpakaadi
cuaca panas Jawa cuaca terkini Banyuwangi suhu 34 derajat bmkg musim kemarau