RADARBANYUWANGI.ID - Sebagian besar wilayah di Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir merasakan penurunan suhu udara yang cukup signifikan. Hawa dingin terutama terasa pada malam hingga menjelang dini hari dan terjadi hampir merata, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hingga Jawa Timur.
Fenomena yang dikenal masyarakat sebagai bediding ini merupakan kondisi yang lazim terjadi saat puncak musim kemarau. Selain menghadirkan udara yang lebih dingin dari biasanya, suhu rendah juga memicu kembali munculnya embun es atau frost di sejumlah kawasan dataran tinggi, seperti Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah dan kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan merupakan fenomena yang perlu dikhawatirkan. Bediding merupakan siklus cuaca tahunan yang dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer dan umum terjadi ketika musim kemarau mencapai puncaknya.
BMKG menjelaskan sedikitnya terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan suhu udara di Pulau Jawa turun cukup drastis.
Faktor pertama adalah menguatnya angin Monsun Australia. Saat ini Australia sedang mengalami musim dingin sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia memiliki karakter lebih dingin dan kering. Aliran angin tersebut melintasi sebagian besar wilayah Pulau Jawa dan berkontribusi terhadap penurunan suhu udara.
Faktor kedua adalah kondisi langit yang relatif cerah dengan tutupan awan yang minim. Pada musim kemarau, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah terlepas ke atmosfer dan luar angkasa ketika malam karena tidak tertahan oleh lapisan awan maupun uap air.
Sementara faktor ketiga adalah rendahnya kelembapan udara. Kandungan uap air yang minim membuat atmosfer tidak mampu menyimpan panas secara optimal sehingga suhu udara turun lebih cepat, terutama menjelang dini hari.
Penurunan suhu paling ekstrem umumnya terjadi di wilayah dataran tinggi dan pegunungan. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, kawasan Dieng di Jawa Tengah menjadi salah satu daerah dengan suhu terendah yang bahkan sempat mencapai di bawah nol derajat Celsius sehingga memunculkan embun es.
Di Jawa Timur, Stasiun Cuaca Otomatis (AWS) BMKG di kawasan Bromo, Kabupaten Probolinggo, mencatat suhu minimum pada kisaran 6 hingga 11 derajat Celsius saat periode terdingin. Selain Bromo, udara dingin juga dirasakan di Kota Batu, Kabupaten Malang, hingga Bondowoso dengan suhu berkisar 14 hingga 18 derajat Celsius.
BMKG memperkirakan fenomena bediding masih akan mendominasi Pulau Jawa selama puncak musim kemarau. Kondisi tersebut diprakirakan berlangsung sepanjang Juli hingga September 2026 sebelum suhu udara kembali meningkat seiring datangnya musim penghujan.
Masyarakat diminta tetap menjaga kondisi kesehatan selama periode cuaca dingin. Penggunaan pakaian hangat atau berlapis dianjurkan terutama saat beraktivitas pada malam dan dini hari. Selain itu, menjaga daya tahan tubuh melalui konsumsi makanan bergizi, minuman hangat, dan asupan vitamin juga penting dilakukan.
Bagi masyarakat yang melintasi jalur pegunungan, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena suhu rendah sering diikuti terbentuknya kabut tebal pada pagi hari yang dapat mengurangi jarak pandang.
Petani dan peternak di wilayah dataran tinggi juga diimbau memperhatikan kondisi tanaman maupun ternaknya. Suhu yang terlalu rendah berpotensi memicu stres pada hewan ternak serta merusak tanaman akibat terbentuknya embun es.
BMKG mengimbau masyarakat tidak panik menghadapi fenomena bediding. Kondisi ini merupakan bagian dari siklus cuaca tahunan yang normal selama musim kemarau. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan cuaca harian.
Editor : Lugas Rumpakaadi