RADAR BANYUWANGI – Warga Dusun Krajan 2, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, digegerkan dengan penemuan sesosok pria yang sudah tidak bernyawa di tepi jalan pada Minggu pagi (12/7). Korban belakangan diketahui bernama Vik Hariyadi, 66, seorang pencari barang rongsokan asal Dusun Pekiringan, Desa Sumbersari, Kecamatan Srono. Hasil pemeriksaan medis memastikan korban meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya, tanpa ditemukan tanda-tanda kekerasan.
Jasad korban pertama kali ditemukan sekitar pukul 06.30 WIB oleh Abdul Mukhid, 54, warga setempat. Saat itu, Mukhid sedang berjalan melintasi lokasi dan melihat seorang pria tergeletak kaku di bahu jalan.
Karena merasa curiga, Mukhid mendekati tubuh pria tersebut untuk memastikan kondisinya. Setelah diperiksa sekilas, korban diduga sudah meninggal dunia. Temuan itu kemudian segera dilaporkan kepada jajaran Polsek Genteng.
"Warga langsung melaporkan temuan tersebut ke Polsek Genteng," kata Kapolsek Genteng Kompol Khoirul Anwar melalui Kanit Reskrim Ipda Sujarwadi.
Mendapat laporan dari masyarakat, petugas kepolisian segera menuju lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengevakuasi korban, sekaligus meminta keterangan sejumlah saksi.
Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Genteng untuk menjalani pemeriksaan medis luar guna memastikan penyebab kematian.
Menurut Sujarwadi, hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter di RSUD Genteng tidak menemukan adanya luka maupun tanda kekerasan pada tubuh korban.
"Hasil pemeriksaan medis luar menunjukkan korban meninggal dunia murni karena sakit yang dideritanya. Tidak ada indikasi penganiayaan atau kekerasan fisik," tegasnya.
Setelah identitas korban berhasil diketahui, polisi menghubungi pihak keluarga. Dari keterangan keluarga, Vik Hariyadi pagi itu berangkat dari rumah dengan tujuan menyetorkan barang rongsokan ke tempat penampungan di Desa Kembiritan.
Diduga, di tengah perjalanan penyakit yang dideritanya kambuh hingga korban meninggal dunia di lokasi.
"Korban ini niatnya hendak menjual barang rongsokan. Kemungkinan sakitnya kambuh dan meninggal di lokasi tersebut," ujar Sujarwadi.
Pihak keluarga yang diwakili putra korban, Wahyu Putra Mahendra, 30, menerima peristiwa tersebut sebagai musibah. Keluarga juga menolak dilakukan autopsi dan menandatangani surat pernyataan resmi.
Setelah proses visum luar selesai, jenazah diserahkan kepada keluarga untuk dibawa pulang ke Kecamatan Srono dan dimakamkan.
"Setelah proses visum luar selesai, jenazah korban langsung diserahkan kepada keluarga untuk dibawa pulang ke Srono agar dapat segera dimakamkan," pungkas Sujarwadi. (*)
Editor : Ali Sodiqin