RADARBANYUWANGI.ID – Proses evakuasi truk tangki bahan bakar minyak (BBM) yang terperosok di Jalur Gumitir, penghubung Banyuwangi-Jember, berlangsung penuh ketegangan. Tim gabungan harus berpacu dengan waktu di tengah gelapnya malam, hujan, dan tingginya risiko ledakan sebelum akhirnya kendaraan bermuatan 24 kiloliter BBM itu berhasil diangkat dari bibir lereng pada Sabtu (27/6) pukul 01.40 WIB.
Insiden bermula pada Jumat sore (26/6) ketika truk tangki milik PT Sinar Mentari Gemilang dalam perjalanan mengirim pasokan BBM menuju SPBU Sempolan dan SPBU Ajung, Kabupaten Jember.
Saat melintasi Jalur Gumitir yang dikenal memiliki tikungan tajam dan medan ekstrem, terlebih ketika diguyur hujan deras, ban kendaraan diduga kehilangan daya cengkeram. Truk kemudian oleng dan masuk ke selokan di sisi jalan hingga berhenti dalam posisi miring di tepi lereng.
Beruntung, sopir dan kernet berhasil menyelamatkan diri. Keduanya tidak mengalami luka meski kendaraan nyaris tergelincir ke jurang.
Namun, proses evakuasi menjadi tantangan besar. Selain bobot kendaraan yang mencapai puluhan ton, muatan berupa 24 kiloliter BBM membuat setiap tahapan harus dilakukan dengan standar keselamatan yang sangat ketat.
Kanitlantas Kalibaru Aipda Aries Prasetyanto mengatakan, posisi truk yang miring di bahu jalan dan berbatasan langsung dengan lereng meningkatkan risiko selama proses penyelamatan.
"Karena muatannya bahan bakar yang sangat mudah terbakar, seluruh tahapan dilakukan dengan kehati-hatian tingkat tinggi sesuai prosedur operasional standar (SOP) keselamatan Pertamina," ujarnya.
Operasi evakuasi dipimpin langsung oleh Kepala HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) Pertamina Fuel Terminal Tanjungwangi bersama tim Pertamina, kepolisian, relawan Gumitir, serta personel BPBD Jawa Timur.
Selama proses berlangsung, petugas terus melakukan penyemprotan air ke badan tangki untuk menjaga suhu tetap stabil sekaligus meminimalkan potensi munculnya percikan api yang dapat memicu kebakaran maupun ledakan.
"Untuk mengantisipasi skenario terburuk, petugas terus-menerus menyemprotkan air ke badan tangki demi menjaga suhu tetap stabil dan menanggulangi potensi percikan api," kata Aries.
Memasuki malam, satu unit crane berkapasitas besar didatangkan ke lokasi. Demi memberikan ruang gerak alat berat, polisi memberlakukan penutupan total arus lalu lintas dari arah Banyuwangi maupun Jember.
Penutupan tersebut menyebabkan antrean kendaraan mengular di kedua sisi jalur. Meski demikian, langkah itu dinilai sebagai pilihan paling aman mengingat sempitnya badan jalan serta posisi truk yang berada di tikungan.
Proses pengangkatan berlangsung perlahan. Kombinasi bobot kendaraan, kontur jalan yang sempit, tikungan tajam, dan posisi truk yang miring membuat operator crane harus bekerja dengan presisi tinggi, bergerak sedikit demi sedikit agar tidak memicu pergeseran yang berbahaya.
Setelah perjuangan selama berjam-jam, truk akhirnya berhasil dikembalikan ke badan jalan dalam kondisi aman.
"Evakuasi baru selesai pukul 01.40. Setelah itu arus lalu lintas langsung kami urai secara bertahap menggunakan sistem buka-tutup," pungkas Aipda Aries.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat tingginya tingkat kerawanan Jalur Gumitir, terutama saat musim hujan. Pengendara, khususnya kendaraan bertonase besar, diimbau meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur pegunungan yang dikenal memiliki tikungan tajam dan permukaan jalan yang licin. (sas)
Editor : Ali Sodiqin