Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nelayan Banyuglugur Kembali Soroti Dugaan Limbah Laut, PT Fuyuan Akui Pipa Miliknya

Moh Humaidi Hidayatullah • Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00 WIB
DIKELUHKAN: Penampakan pipa berukuran besar milik PT. Fuyuun, di tengah pantai Desa/Kecamatan Banyuglugur, Situbondo, Jumat (19/6). (Humaidi/Radar Situbondo)
DIKELUHKAN: Penampakan pipa berukuran besar milik PT. Fuyuun, di tengah pantai Desa/Kecamatan Banyuglugur, Situbondo, Jumat (19/6). (Humaidi/Radar Situbondo)

RADARBANYUWANGI.ID – Keluhan nelayan terkait dugaan pembuangan limbah ke laut di perairan Banyuglugur, Situbondo, kembali mencuat. Setelah keberadaan pipa berukuran besar di tengah laut menjadi sorotan publik, seorang nelayan mengaku persoalan tersebut telah berlangsung bertahun-tahun tanpa kejelasan penyelesaian, sementara dampaknya terus dirasakan oleh masyarakat pesisir.

MS, 40, nelayan asal Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, mengatakan dirinya sudah lama menyuarakan persoalan tersebut kepada berbagai pihak. Namun hingga kini, menurutnya, belum ada kepastian terkait sumber pembuangan maupun dampaknya terhadap lingkungan laut.

“Sudah lama kami mempermasalahkan ini. Tetapi sampai sekarang belum ada jawaban yang benar-benar jelas,” ujarnya, Jumat (19/6).

Nelayan Pernah Rekam Air Cokelat Keluar dari Pipa

MS mengungkapkan, beberapa tahun lalu dirinya sempat merekam kondisi pipa yang mengeluarkan air berwarna cokelat ke laut. Rekaman itu kembali menjadi perhatian setelah video terkait dugaan pembuangan limbah beredar luas di masyarakat.

Menurutnya, pipa tersebut diduga terhubung dengan kawasan industri pengolahan rumput laut di sekitar Pantura Banyuglugur. Namun, ia mengaku tidak dapat memastikan secara langsung sumber pasti aliran tersebut.

“Saya sempat merekam pipa itu mengeluarkan air warna cokelat. Mungkin dari dua pabrik atau milik PT Fuyuan. Tapi saya tidak memastikan. Saya berharap pihak terkait bisa menelusuri untuk memastikan sumbernya,” katanya.

Ia juga menduga aktivitas pembuangan tidak berlangsung setiap hari sehingga sulit dipantau secara terus-menerus oleh nelayan.

“Tidak tentu pembuangannya. Tidak setiap hari. Bisa saja dilakukan malam hari,” ujarnya.

Aktivitas Nelayan Terganggu

Selain kekhawatiran terkait dugaan limbah, nelayan mengeluhkan keberadaan pipa yang menjulur hingga ke tengah laut karena dinilai mengganggu jalur pelayaran perahu kecil.

MS menjelaskan, nelayan harus memutar jalur pelayaran agar perahu tidak tersangkut pipa yang sebagian masih mengapung di permukaan laut.

“Kalau mau melintas ke arah timur harus menyisir ke tengah laut supaya tidak nyangkut ke pipa yang mengapung,” tuturnya.

Kondisi tersebut dinilai menambah risiko bagi nelayan, terutama saat cuaca buruk atau gelombang tinggi.

PT Fuyuan Akui Pipa Milik Perusahaan

Menanggapi polemik yang berkembang, penerjemah PT Fuyuan, Elfira, membenarkan bahwa pipa yang terlihat dalam video yang beredar memang merupakan milik perusahaan.

Namun, ia menegaskan kondisi air keruh yang terekam dalam video terjadi sekitar lima tahun lalu ketika perusahaan sedang melakukan proses pembersihan saluran.

Menurutnya, sistem pengelolaan limbah perusahaan saat ini telah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebelum dibuang sesuai kajian teknis yang berlaku.

“Saat ini operasional limbah kami sudah melalui IPAL. Pipa tersebut masih digunakan untuk membuang air bekas pencucian rumput laut sesuai kajian teknis pembuangan yang telah ada,” jelas Elfira.

Perusahaan Janji Benahi Posisi Pipa

Elfira juga menjelaskan bahwa secara teknis ujung pipa telah ditenggelamkan ke dasar laut. Namun, sebagian bagian tengah pipa masih terlihat mengapung karena faktor teknis di lapangan.

Pihak perusahaan mengaku sebelumnya telah berupaya menenggelamkan seluruh jaringan pipa, tetapi sebagian kembali muncul ke permukaan.

Karena itu, PT Fuyuan berjanji akan mencari solusi agar seluruh bagian pipa dapat berada di bawah permukaan laut sehingga tidak mengganggu aktivitas nelayan.

“Kami masih mengupayakan solusi teknis agar seluruh pipa dapat tenggelam,” ujarnya.

Menunggu Hasil Investigasi Instansi Berwenang

Polemik dugaan limbah laut di Banyuglugur kini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk aparat dan instansi terkait yang mulai melakukan peninjauan lapangan.

Nelayan berharap investigasi yang dilakukan dapat memberikan kepastian mengenai fungsi pipa tersebut, memastikan tidak ada pencemaran lingkungan, serta menjamin aktivitas melaut masyarakat pesisir tidak lagi terganggu.

Di sisi lain, perusahaan memastikan operasional pengelolaan limbah telah mengikuti prosedur yang berlaku. Hasil pemeriksaan dan kajian teknis dari instansi berwenang nantinya akan menjadi penentu untuk menjawab kekhawatiran masyarakat sekaligus mengakhiri polemik yang telah berlangsung bertahun-tahun. (hum/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#limbah laut #PT Fuyuan #pipa laut #Nelayan Situbondo #Banyuglugur