RADARBANYUWANGI.ID - Duka mendalam masih menyelimuti Kabupaten Rokan Hilir pascakecelakaan tragis yang melibatkan ambulans milik RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai (Permai). Salah satu korban meninggal dunia, Winda Handasari, dikenang sebagai tenaga kesehatan yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan saat musibah itu terjadi.
Suasana haru terlihat di rumah duka Winda yang berada di seberang Kantor KPU Rokan Hilir, Jalan Lintas Bagansiapiapi. Sejak pagi, rumah tersebut dipadati keluarga, kerabat, rekan kerja, hingga warga yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus menyampaikan belasungkawa.
Membludaknya jumlah pelayat bahkan membuat sebagian akses jalan di sekitar rumah duka harus ditutup sementara guna mengantisipasi kepadatan kendaraan dan aktivitas masyarakat yang terus berdatangan.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Ahad malam (7/6/2026) sekitar pukul 23.45 WIB di ruas Tol Pekanbaru-Dumai. Ambulans RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi yang sedang melakukan perjalanan rujukan menuju Pekanbaru mengalami kecelakaan hingga menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ambulans tersebut diduga menabrak bagian samping kiri sebuah truk trailer yang berada di depannya. Benturan keras membuat pengemudi kehilangan kendali hingga kendaraan ambulans terbalik di badan jalan tol.
Akibat kecelakaan tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara satu korban lainnya mengalami luka-luka.
Winda Handasari menjadi salah satu korban yang meninggal dalam peristiwa tersebut. Saat kejadian, perawat berusia 37 tahun itu tengah menjalankan tugas mendampingi pasien yang dirujuk untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut di Pekanbaru.
Selain Winda, korban meninggal lainnya adalah seorang pasien yang sedang menjalani pengobatan serta dua anggota keluarganya, Ade Misra dan Kasih Afrianti, warga Jalan Siak, Kelurahan Bagan Timur, Kecamatan Bangko, Bagansiapiapi.
Kepergian Winda meninggalkan duka mendalam bagi banyak pihak. Rekan-rekan kerja maupun sahabat mengenangnya sebagai sosok yang baik dan berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugas pelayanan kesehatan.
Karunia, salah seorang rekan korban, mengaku sangat terpukul mendengar kabar tersebut. Ia tidak pernah menyangka musibah itu akan merenggut nyawa sahabat yang dikenalnya sebagai pribadi baik dan penuh kepedulian.
“Mereka orang yang baik dan masih meninggalkan anak-anak yang masih kecil,” ujarnya dengan suara bergetar.
Karunia yang bekerja di salah satu organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir mengatakan dirinya mengenal para korban cukup dekat karena usia mereka tidak terpaut jauh.
Duka yang sama juga disampaikan Bupati Rokan Hilir H. Bistamam. Melalui keterangan tertulis, ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas musibah yang menimpa para korban kecelakaan di KM 25+800 Jalur B Tol Permai tersebut.
“Atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir, saya menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita. Semoga almarhum dan almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, kesabaran, dan ketabahan,” ujar Bistamam.
Menurutnya, tragedi tersebut bukan hanya menjadi duka bagi keluarga korban, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Rokan Hilir. Terlebih salah satu korban merupakan tenaga kesehatan yang selama ini mengabdikan dirinya untuk melayani masyarakat.
Bistamam menilai kepergian Winda merupakan kehilangan besar bagi keluarga besar RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi dan Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir.
“Almarhumah merupakan sosok tenaga kesehatan yang telah mendedikasikan diri untuk pelayanan masyarakat. Kehilangan ini menjadi duka mendalam bagi keluarga besar RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi maupun Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir. Semoga seluruh amal ibadah dan pengabdiannya menjadi pahala di sisi Allah SWT,” tuturnya.
Bupati juga mengajak masyarakat untuk mendoakan seluruh korban agar mendapatkan husnul khatimah serta keluarga yang ditinggalkan diberi keikhlasan dan ketabahan menghadapi cobaan berat tersebut.
Tragedi ini kembali menjadi pengingat akan risiko besar yang dihadapi tenaga kesehatan saat menjalankan tugas pelayanan. Di tengah upaya menyelamatkan dan mendampingi pasien, mereka juga harus berhadapan dengan berbagai risiko perjalanan yang tidak terduga.
Kini, tangis keluarga dan doa para pelayat mengiringi kepergian Winda Handasari. Sosok perawat yang dikenal penuh dedikasi itu meninggalkan jejak pengabdian yang akan terus dikenang oleh keluarga, rekan kerja, dan masyarakat yang pernah merasakan manfaat dari pelayanan yang diberikannya. (*)
Editor : Ali Sodiqin