Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nyaru Pembeli, Pria Berpenampilan Rapi Tipu Nenek Pemilik Toko di Banyuwangi dengan Uang Mainan

Fredy Rizki Manunggal • Kamis, 4 Juni 2026 | 07:29 WIB
Uang palsu pecahan Rp 20 ribu ini dipakai transaksi di warung kelontong Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Senin (1/6) lalu. (Dok. Polsek Wongsorejo)
Uang palsu pecahan Rp 20 ribu ini dipakai transaksi di warung kelontong Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Senin (1/6) lalu. (Dok. Polsek Wongsorejo)

RADARBANYUWANGI.ID – Modus penipuan menggunakan uang mainan kembali menghantui masyarakat Banyuwangi. Kali ini korbannya seorang perempuan lanjut usia (lansia) pemilik toko kelontong di Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo. Pelaku yang menyamar sebagai pembeli berhasil memperdaya korban dan membawa kabur barang belanjaan setelah membayar menggunakan lembaran uang yang sekilas tampak seperti uang asli.

Kasus tersebut menjadi peringatan serius bagi pelaku usaha kecil di pelosok desa untuk lebih teliti saat menerima pembayaran tunai, terutama dari orang yang belum dikenal.

Korban diketahui bernama Mbah Kawet, pemilik Toko Sundul Langit yang berada di Desa Alasbuluh. Peristiwa itu terjadi pada Senin (1/6) siang saat korban tengah menjaga toko seorang diri.

Menurut keterangan keluarga, seorang pria berpenampilan rapi datang ke toko dan berpura-pura menjadi pembeli biasa. Ia kemudian memilih beberapa barang dagangan, di antaranya sepatu dan rokok.

Penampilan pelaku yang necis membuat korban sama sekali tidak menaruh curiga.

“Karena penampilannya rapi, mbah mengira orang itu pegawai bank atau orang kantoran,” ujar cucu korban, Bagus Prayogo.

Bayar Pakai 11 Lembar Pecahan Rp 20 Ribu

Setelah memilih barang yang akan dibeli, pelaku menyerahkan uang pecahan Rp 20 ribu sebanyak 11 lembar kepada korban sebagai alat pembayaran.

Karena usia yang sudah lanjut dan tidak melakukan pemeriksaan secara detail, korban langsung menerima uang tersebut dan menyelesaikan transaksi seperti biasa.

Pelaku pun dengan leluasa meninggalkan lokasi setelah menerima barang belanjaan dan kembalian dari korban.

Tidak ada tanda-tanda mencurigakan saat transaksi berlangsung.

Namun beberapa jam kemudian, fakta mengejutkan terungkap.

Terungkap Saat Cucu Pulang ke Toko

Kasus penipuan itu baru diketahui ketika Bagus Prayogo pulang ke toko saat jam istirahat kerja.

Seperti biasa, ia membantu memeriksa hasil transaksi yang dilakukan neneknya selama menjaga toko.

Saat itulah ia menemukan kejanggalan pada uang yang diterima dari salah satu pembeli.

“Pas saya pulang istirahat ke toko, baru mengetahui kalau itu uang mainan. Namanya juga mbah-mbah, dikira uang baru dari bank,” katanya.

Setelah diperiksa lebih teliti, seluruh lembar uang pecahan Rp 20 ribu yang digunakan pelaku ternyata bukan uang asli.

Pada bagian tertentu terdapat tulisan "uang mainan" yang menunjukkan bahwa uang tersebut tidak memiliki nilai transaksi.

Meski demikian, secara kasat mata tampilannya memang menyerupai uang asli sehingga cukup mudah mengecoh orang yang tidak melakukan pengecekan secara detail.

Pelaku Diduga Sengaja Sasar Lansia

Keluarga korban menduga pelaku telah mengincar korbannya terlebih dahulu.

Usia korban yang sudah lanjut membuatnya lebih rentan menjadi sasaran kejahatan dengan modus seperti ini.

Apalagi saat kejadian, korban sedang menjaga toko seorang diri tanpa pendamping keluarga.

“Diduga pelaku memang memanfaatkan kondisi mbah yang sudah lanjut usia sehingga lebih mudah dikelabui,” ujar Bagus.

Akibat kejadian tersebut, Mbah Kawet mengalami kerugian sekitar Rp 220 ribu, belum termasuk barang dagangan yang telah dibawa pelaku.

Meski nominal kerugiannya tidak terlalu besar, kejadian itu meninggalkan trauma dan rasa kecewa bagi keluarga korban.

CCTV Mati Dua Pekan Sebelum Kejadian

Upaya pelacakan terhadap pelaku juga mengalami kendala.

Pasalnya, kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di toko tidak berfungsi saat kejadian berlangsung.

Menurut Bagus, perangkat tersebut sebenarnya tersedia dan biasa digunakan untuk memantau aktivitas di sekitar toko.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir CCTV sedang mengalami gangguan dan belum sempat diperbaiki.

“Kalau CCTV sebenarnya ada, tapi kebetulan saat itu tidak aktif,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat identitas pelaku belum bisa diketahui secara pasti.

Polisi Lakukan Penyelidikan

Kapolsek Wongsorejo AKP Eko Darmawan membenarkan adanya laporan terkait kasus penipuan tersebut.

Saat ini jajaran kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas pelaku dan menelusuri kemungkinan adanya korban lain dengan modus serupa.

“Untuk pelaku masih kami laksanakan penyelidikan,” tegasnya.

Menurut Eko, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, CCTV di lokasi memang diketahui tidak aktif sejak sekitar dua pekan sebelum kejadian.

Petugas kini mengumpulkan keterangan dari korban, saksi, serta warga sekitar yang mungkin melihat keberadaan pelaku sebelum maupun sesudah beraksi.

Warga Diminta Waspada

Polisi mengimbau masyarakat, terutama pemilik toko, agen pembayaran, dan pelaku usaha kecil, agar lebih berhati-hati saat menerima uang tunai.

Setiap lembar uang yang diterima sebaiknya diperiksa secara cermat untuk memastikan keasliannya.

Pelaku kejahatan kerap memanfaatkan kelengahan korban dengan menggunakan uang mainan yang memiliki warna dan ukuran menyerupai uang asli.

Keluarga korban berharap kasus tersebut menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak mengalami kejadian serupa.

“Semoga tidak ada lagi korban berikutnya. Karena uang mainan yang digunakan memang sekilas mirip sekali dengan uang asli,” kata Bagus.

Kasus ini sekaligus menjadi alarm bagi masyarakat Banyuwangi bahwa modus penipuan sederhana masih terus bermunculan dan menyasar kelompok rentan, termasuk lansia yang menjalankan usaha kecil di lingkungan pedesaan. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#uang mainan Banyuwangi #penipuan Wongsorejo #toko kelontong Banyuwangi #Polsek Wongsorejo #uang palsu