RADARBANYUWANGI.ID - Gelombang insiden sapi kurban mengamuk terjadi di sejumlah wilayah Surabaya menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Dalam waktu hanya dua hari, sedikitnya empat kejadian sapi lepas kendali dilaporkan terjadi di berbagai kawasan, mulai dari berlari liar hingga tercebur ke selokan dan lubang saluran sedalam 60 meter.
Peristiwa tersebut membuat warga panik sekaligus menyita perhatian publik karena proses evakuasi berlangsung dramatis dan melibatkan tim penyelamatan khusus dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya.
Insiden paling parah terjadi di kawasan Sememi, Kecamatan Benowo, Rabu (27/5) dini hari sekitar pukul 03.15 WIB. Seekor sapi kurban tiba-tiba lepas kendali lalu melompat masuk ke lubang saluran air dengan kedalaman mencapai 60 meter.
Akibat jatuh dari ketinggian ekstrem tersebut, sapi mengalami cedera serius berupa patah kaki dan leher. Proses evakuasi pun berlangsung sulit karena posisi hewan berada di area sempit dan sulit dijangkau.
Petugas rescue akhirnya harus mengerahkan alat berat berupa crane dan unit penanganan khusus untuk mengangkat sapi dari dasar lubang.
Kepala Bidang Pemadaman DPKP Surabaya, M Rokhim, mengatakan insiden di Sememi menjadi operasi penyelamatan paling rumit dibanding tiga kejadian lainnya.
“Yang lama itu yang tadi dini hari di Sememi, butuh waktu sekitar dua jam. Soalnya harus pakai unit HDR. Lubangnya dalam dan sempit, jadi sulit aksesnya,” ujar Rokhim, Rabu (27/5).
Menurut dia, meski ukuran sapi tidak terlalu besar atau diperkirakan di bawah setengah ton, faktor kedalaman lubang menjadi kendala utama dalam proses evakuasi.
“Besarnya enggak terlalu besar, paling enggak sampai setengah ton kayaknya, tapi karena faktor kedalaman itulah yang menyulitkan,” jelasnya.
Rangkaian insiden sapi mengamuk di Surabaya sebenarnya sudah mulai terjadi sejak Selasa (26/5) atau sehari sebelum Idul Adha.
Kejadian pertama dilaporkan di kawasan Benowo. Saat hendak diturunkan dari mobil pikap, seekor sapi mendadak berontak hebat hingga akhirnya tercebur ke selokan.
Tak lama berselang, peristiwa serupa kembali terjadi di kawasan Royal Residence, Wiyung. Seekor sapi yang hendak diikat tiba-tiba panik lalu berlari liar di tengah permukiman warga.
Ketegangan berlanjut di kawasan Karah Indah, Jambangan. Dua ekor sapi yang baru diturunkan dari kendaraan mendadak lepas dari ikatan dan berlarian tak terkendali sebelum akhirnya sama-sama tercebur ke saluran air.
Rokhim menyebut hampir seluruh kasus memiliki pola yang sama. Hewan kurban mengalami stres dan ketakutan akibat lingkungan baru, keramaian warga, hingga suara bising di sekitar lokasi penyembelihan.
“Biasanya kalau sapi itu takut. Karena tempatnya di kandang terus banyak anak-anak nonton, terus dia jadi takut terus lari-lari, akhirnya kecemplung. Semua kasus itu penyebabnya hampir sama, kaget dan stres,” ungkapnya.
Ia merinci empat lokasi kejadian tersebut berada di kawasan Raci, Jambangan, Babatan, dan Sememi. Dari empat insiden itu, satu sapi hanya berlari liar sementara tiga lainnya tercebur ke selokan atau lubang saluran air.
Meski membuat kepanikan warga, beruntung tidak ada korban jiwa maupun warga yang terluka akibat serudukan atau tendangan sapi.
“Yang satu cuma lari, yang tiga cemplung. Tapi syukurnya enggak ada korban manusia, enggak ada yang kena seruduk atau terluka, cuma sapinya saja yang mengalami stres dan cedera,” tegas Rokhim.
Meningkatnya kasus sapi kurban lepas menjelang Idul Adha membuat DPKP Surabaya meningkatkan kesiapsiagaan personel rescue. Tim penyelamatan disiagakan penuh selama 24 jam untuk mengantisipasi kejadian serupa.
Menurut Rokhim, sekitar 20 personel rescue disiapkan dalam setiap pergantian shift, baik pagi maupun siang, guna merespons laporan warga dengan cepat.
“Tim kami itu kan sudah dibagi per harinya, kurang lebih per shift-nya sekitar 20-an personel standby. Jadi kami siap merespons kapan saja,” pungkasnya.
Fenomena sapi kurban mengamuk menjelang Idul Adha memang kerap terjadi di sejumlah daerah. Selain faktor stres akibat perjalanan jauh, hewan juga mudah panik ketika berada di lingkungan ramai yang dipenuhi suara kendaraan, warga, dan aktivitas penyembelihan.
Petugas pun mengimbau panitia kurban memastikan sistem pengikatan dan penanganan hewan dilakukan secara aman agar tidak membahayakan masyarakat sekitar. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : radar surabaya