RADARBANYUWANGI.ID – Kepanikan menyelimuti warga Perumahan Pongangan Indah, Desa Pongangan, Kecamatan Manyar, Gresik, Selasa malam (26/5). Seekor sapi kurban yang baru didatangkan dari peternak di Lamongan mendadak lepas dari tali pengikat, mengamuk di halaman masjid, dan memaksa petugas melakukan operasi penyelamatan darurat selama lebih dari lima jam.
Situasi menegangkan itu terjadi di halaman Masjid Al Hasan. Warga yang awalnya bersiap menyambut hewan kurban justru dibuat panik ketika sapi bertubuh besar tersebut sulit dikendalikan dan menunjukkan perilaku agresif.
Sejumlah warga sempat berusaha mengejar sekaligus mengepung hewan itu. Namun upaya tersebut gagal karena kondisi sapi diduga sudah mengalami stres berat.
Kondisi tersebut membuat risiko keselamatan semakin tinggi, terutama karena lokasi kejadian berada di area permukiman padat penduduk.
Laporan darurat kemudian dikirim melalui layanan Call Center 112 Gresik sekitar pukul 19.04 WIB.
Tak lama berselang, tim rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Gresik bergerak menuju lokasi.
Perwira Piket Damkarla Gresik, Teguh Priyanto, mengatakan petugas bergerak cepat sesaat setelah laporan diterima.
Tim rescue berangkat sekitar pukul 19.06 WIB dan tiba di lokasi pukul 19.19 WIB.
Setibanya di lokasi, petugas bersama warga kembali mencoba menenangkan sapi menggunakan pendekatan manual.
Namun cara tersebut tidak membuahkan hasil.
Sapi terus berontak dan menunjukkan perilaku agresif sehingga evakuasi dinilai berisiko tinggi.
"Kondisi sapi yang sangat agresif membuat proses evakuasi manual cukup sulit dan berisiko tinggi. Karena itu petugas di lapangan langsung berinisiatif memanggil tim dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan situasi," ujar Teguh, Rabu (27/5).
Tim Dokter Hewan Turun, BKSDA Dilibatkan
Melihat kondisi sapi yang semakin sulit dikendalikan, petugas kemudian berkoordinasi dengan dokter hewan di lokasi.
Setelah pemeriksaan dilakukan, tim medis menilai tingkat stres hewan sudah memasuki kategori membahayakan.
Dokter hewan merekomendasikan penggunaan obat penenang dengan dosis khusus agar situasi tidak semakin berbahaya.
Mendapat rekomendasi tersebut, tim Damkar langsung melakukan koordinasi lanjutan dengan sejumlah instansi.
Bantuan tambahan kemudian melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur serta tim dokter hewan dari Dinas Peternakan Kabupaten Lamongan.
Dokter hewan, Rajendra, bersama tim gabungan selanjutnya mengambil tindakan medis menggunakan peluru obat bius.
Beberapa tembakan bius diarahkan ke tubuh sapi agar hewan perlahan kehilangan tenaga dan lebih mudah diamankan.
Setelah menunggu efek obat bekerja, kondisi sapi mulai melemah.
Petugas bersama warga kemudian mendekat dan mengikat kembali hewan tersebut.
"Alhamdulillah, sapi kurban berhasil ditangkap dan dievakuasi dengan aman setelah proses penanganan yang cukup panjang serta menguras energi dengan melibatkan berbagai unsur lintas instansi," kata Teguh.
Operasi Berakhir Tengah Malam
Proses evakuasi panjang tersebut baru dinyatakan selesai pada Rabu dini hari sekitar pukul 00.27 WIB.
Artinya, operasi penyelamatan berlangsung lebih dari lima jam sejak laporan pertama diterima.
Meski berlangsung dramatis, tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengalami luka dalam kejadian tersebut.
Petugas juga memastikan tidak terdapat kerusakan fasilitas di sekitar lokasi.
Dalam operasi tersebut, Damkarla Gresik mengerahkan satu unit kendaraan taktis jenis Panther dan tujuh personel rescue.
Selain Damkar, operasi juga melibatkan banyak unsur lain seperti Dinas Pertanian Bidang Peternakan Gresik, Rumah Pemotongan Hewan Pulopancikan, Dinas Peternakan Lamongan, BKSDA Jawa Timur, pengurus takmir masjid hingga warga sekitar.
Peristiwa sapi kurban mengamuk ini kembali menjadi pengingat bahwa penanganan hewan berukuran besar menjelang Idul Adha membutuhkan pengawasan ketat dan prosedur keamanan yang memadai agar tidak membahayakan masyarakat sekitar. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Radar Gresik