RADARBANYUWANGI.ID – Cuaca ekstrem di perairan selatan Banyuwangi kembali memakan korban. Dua perahu nelayan di kawasan Plawangan Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, rusak setelah dihantam ombak besar saat hendak pulang melaut, Kamis pagi (7/5).
Satu perahu dilaporkan pecah dan mengalami kerusakan berat. Sedangkan satu perahu lainnya rusak namun masih memungkinkan untuk diperbaiki. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden yang terjadi di pintu masuk antara Pelabuhan Grajagan dan laut lepas tersebut.
Peristiwa itu terjadi ketika dua nelayan asal Desa Grajagan, Miski dan Slamet, pulang dari mencari udang di laut selatan usai melaut sejak Rabu malam (6/5).
Masing-masing nelayan menggunakan satu perahu saat berangkat mencari hasil tangkapan di perairan Grajagan.
Salah satu nelayan Grajagan, Mualif, mengatakan kedua nelayan sempat berupaya masuk ke area plawangan sekitar pukul 07.00 WIB.
Namun saat berada di jalur masuk pelabuhan, ombak besar setinggi sekitar 1,5 meter datang menghantam perahu mereka.
“Perahu kedua nelayan itu dihantam ombak. Perahu Pak Miski pecah sedangkan milik Pak Slamet masih bisa diperbaiki,” ujarnya.
Plawangan Grajagan sendiri dikenal sebagai salah satu titik yang cukup berbahaya bagi nelayan, terutama saat cuaca buruk dan gelombang tinggi terjadi di laut selatan.
Arus kuat dan ombak besar di jalur keluar masuk perahu kerap menjadi ancaman bagi nelayan tradisional yang melaut menggunakan perahu kecil.
Menurut Mualif, kondisi ombak besar sebenarnya sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Fenomena tersebut disebut sebagai siklus tahunan yang biasa muncul di perairan selatan Banyuwangi dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
“Beberapa hari terakhir ombak memang mulai besar,” katanya.
Meski kondisi cuaca kurang bersahabat, aktivitas nelayan di Grajagan masih cukup ramai karena saat ini sedang memasuki musim ikan layur dan buntut merah.
Harga jual hasil tangkapan juga cukup menguntungkan bagi nelayan.
Ikan layur saat ini dijual sekitar Rp 35 ribu per kilogram, sedangkan ikan buntut merah mencapai Rp 25 ribu per kilogram.
“Kalau sedang beruntung satu nelayan bisa mendapatkan tiga teripung atau sekitar 120 kilogram sekali melaut,” ungkap Mualif.
Insiden rusaknya dua perahu tersebut menjadi peringatan bagi nelayan agar lebih waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem di kawasan laut selatan Banyuwangi.
Gelombang tinggi dan angin kencang di kawasan Grajagan diketahui kerap terjadi memasuki pertengahan tahun dan berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran nelayan tradisional.
Nelayan diimbau terus memantau kondisi cuaca sebelum melaut dan mengutamakan keselamatan saat melintasi Plawangan yang dikenal memiliki karakter ombak besar dan arus kuat. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin