Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bukan Kelalaian Masinis, Kecelakaan Kereta Api Bekasi Timur Disebut Akibat Sistem Campur KAJJ dan KRL

Lugas Rumpakaadi • Senin, 4 Mei 2026 | 09:47 WIB
Kecelakaan maut di Bekasi Timur soroti dugaan mogok taksi listrik. (Lombok Post)
Kecelakaan kereta di Bekasi Timur dinilai bukan sekadar human error. (Lombok Post)

RADARBANYUWANGI.ID - Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur menuai sorotan. Mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (KAI), Riza Primadi, menilai insiden tersebut tidak bisa disederhanakan sebagai kelalaian individu semata.

“Human error itu siapa? Masinis? Rangkaian itu perlu jarak minimal 500 meteran jika dengan kecepatan hanya 60 km/jam,” kata Riza saat dihubungi di Jakarta, Senin (4/5/2026), dikutip Antara.

Menurutnya, karakteristik rangkaian kereta api jarak jauh (KAJJ) yang berbobot besar membuat jarak pengereman menjadi panjang. Ia menilai masinis telah melakukan upaya pengereman, tercermin dari dampak tabrakan yang tidak menghancurkan seluruh rangkaian.

“Jika nggak ngerem bisa lebih dari dua sampai tiga kereta KRL yang bakal diseruduk,” ujarnya.

Riza menegaskan, akar persoalan lebih mengarah pada sistem operasional dan infrastruktur. Ia menyoroti praktik pencampuran perjalanan KAJJ dan KRL dalam satu jalur sebagai faktor risiko tinggi.

“Pada prinsipnya secara operasional perjalanan KA dengan mencampur dua jenis KA yang berbeda (KAJJ dan KRL) sangat berpotensi terjadinya KKA,” tegasnya.

Ia mencontohkan perjalanan Argo Bromo Anggrek yang melaju dari Gambir menuju Cirebon dengan kecepatan tinggi dan pola berhenti terbatas. Kondisi ini berbeda dengan KRL yang berhenti di hampir setiap stasiun, sehingga potensi “kesalip” sulit dihindari.

“Perbedaan pola berhenti dan kecepatan ini krusial. Kalau tidak diatur ketat, risikonya besar,” imbuhnya.

Pengamat transportasi Ki Darmaningtyas menawarkan solusi berbasis teknologi. Ia mendorong penerapan Intelligent Transportation System (ITS) berbasis GPS untuk meningkatkan keselamatan operasional.

“Gunakan teknologi Intelligent Transportation System (ITS) berbasis GPS untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta,” ujarnya.

Dengan sistem tersebut, masinis dapat mengetahui kondisi jalur di depan secara real time, termasuk keberadaan kereta lain atau gangguan.

“Kalau semua sarana PT KAI itu dilengkapi dengan GPS yang bisa mendeteksi satu atau dua kilo ke depan itu ada gangguan apa, itu bisa meminimalisir kecelakaan,” jelasnya.

Menurut Darmaningtyas, teknologi tersebut lebih efektif dibandingkan dengan pengereman mendadak yang berisiko terhadap keselamatan perjalanan.

“Kalau mengerem dadakan kan berbahaya juga untuk kereta api itu,” katanya.

Ia optimistis, kombinasi pembenahan sistem operasional dan penerapan teknologi GPS dapat menekan risiko kecelakaan secara signifikan.

Sementara itu, Polda Metro Jaya telah memeriksa 31 saksi untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan di Bekasi Timur yang terjadi pada Senin (27/4/2026). Proses investigasi masih berlangsung untuk memastikan faktor-faktor yang berkontribusi dalam insiden tersebut.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#kecelakaan kereta Bekasi Timur #argo bromo anggrek tabrakan #keselamatan transportasi indonesia #PT KAI sistem operasional #teknologi GPS kereta api