RADARBANYUWANGI.ID – Fakta baru terungkap di balik tragedi suami membakar istri di Dusun Mulyorejo, Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, Jumat malam (24/4).
Korban, Nur Hasanah, 56, ternyata telah berupaya mengakhiri rumah tangganya sejak dua tahun lalu dengan mengurus pengajuan cerai di kantor desa.
Informasi ini memperkuat dugaan bahwa insiden yang melibatkan pasangan suami istri, Sularni, 63, dan Nur Hasanah, bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan puncak dari konflik rumah tangga yang telah berlangsung lama.
Kepala Desa Wringinrejo, Muadim, membenarkan bahwa kondisi rumah tangga keduanya belakangan memang tidak harmonis. Ia bahkan mengingat betul saat Nur Hasanah datang ke kantor desa untuk mengurus surat pengantar perceraian.
“Sekitar dua tahun lalu, yang perempuan datang ke kantor desa mengurus surat cerai,” ujarnya.
Muadim mengaku sempat mencoba menasihati korban agar mempertimbangkan kembali keputusannya, mengingat usia keduanya yang sudah tidak muda lagi. Namun, korban saat itu mengaku sudah tidak sanggup mempertahankan rumah tangga.
“Saya sempat bilang, ‘sudah umur segini kok tidak akur’. Tapi dia jawab sudah tidak kuat,” ungkapnya.
Meski demikian, hingga kini proses perceraian tersebut belum rampung. Pasangan tersebut masih tinggal serumah di kediamannya di Dusun Mulyorejo.
“Setahu saya surat cerainya belum keluar. Mereka masih tinggal satu rumah, hanya berdua. Anak-anaknya sudah tidak tinggal bersama, satu di Jepang dan satu lagi sudah berkeluarga,” jelas Muadim.
Ia juga mengungkapkan, dugaan sementara konflik rumah tangga pasangan tersebut dipicu persoalan ekonomi. Meski tidak mengetahui secara pasti, informasi yang beredar di lingkungan warga mengarah pada tekanan finansial yang dialami keluarga itu.
“Banyak yang bilang karena masalah ekonomi. Entah karena biaya memberangkatkan anak ke luar negeri atau faktor lain, tapi pertengkarannya sering karena itu,” katanya.
Hal ini cukup mengejutkan warga sekitar. Sebab, pasangan tersebut dikenal sebagai pekerja keras. Sularni memiliki bengkel sepeda motor dengan pelanggan tetap, sementara Nur Hasanah membuka usaha warung makan di rumahnya.
“Yang satu punya bengkel, yang satu jualan makanan. Keduanya sebenarnya pekerja keras, tapi kebutuhan hidup memang tidak pernah berhenti,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, tragedi memilukan itu terjadi sekitar pukul 23.50 WIB. Pelaku diduga menyiramkan bensin ke tubuh istrinya dan menyulut api, sebelum akhirnya ikut membakar dirinya sendiri. Keduanya kini menjalani perawatan intensif akibat luka bakar serius.
Kasus ini menjadi sorotan sekaligus pengingat bahwa konflik rumah tangga yang tidak terselesaikan dapat berujung pada tindakan ekstrem. Peran lingkungan sekitar dan pihak terkait dinilai penting untuk mendeteksi serta mencegah potensi kekerasan sejak dini. (sas/aif)
Editor : Ali Sodiqin