Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Aktivitas Gunung Slamet Meningkat, Pendakian Ditutup dalam Radius 3 Kilometer

Lugas Rumpakaadi • Senin, 20 April 2026 | 14:50 WIB
Aktivitas Gunung Slamet meningkat hingga April 2026. (Magma ESDM)
Aktivitas Gunung Slamet meningkat hingga April 2026. (Magma ESDM)

RADARBANYUWANGI.ID - Aktivitas vulkanik Gunung Slamet menunjukkan peningkatan signifikan hingga Senin (20/4/2026).

Kondisi ini mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banyumas untuk mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pendakian dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung.

Staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banyumas, Awal Sudiono, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas tersebut terdeteksi dari naiknya suhu kawah yang cukup drastis.

Perubahan ini turut berdampak pada kondisi sumber air panas di sejumlah destinasi wisata, seperti Pancuran Pitu.

“Gunung Slamet saat ini berada pada level waspada. Untuk radius 3 kilometer dari puncak, sudah tidak diperbolehkan ada aktivitas pendakian. Semua jalur pendakian telah ditutup,” ujar Awal, dikutip RRI.

Selain di Pancuran Pitu, perubahan suhu juga terpantau di Pancuran Tiga serta kawasan Guci.

Fenomena ini menunjukkan adanya peningkatan energi panas dari dalam perut bumi yang menjadi indikator aktivitas vulkanik.

Menurut Awal, tanda-tanda peningkatan aktivitas Gunung Slamet sebenarnya telah terdeteksi sejak Maret 2024 dan terus berlanjut hingga saat ini.

Berdasarkan hasil pengukuran terbaru, suhu kawah kini berada di kisaran 300 hingga 400 derajat Celsius.

Meski aktivitas vulkanik meningkat, masyarakat yang tinggal di lereng selatan, khususnya di wilayah Kabupaten Banyumas, masih dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa.

Namun demikian, kewaspadaan tetap menjadi hal yang ditekankan oleh pihak berwenang.

“Untuk aktivitas masyarakat masih normal, tetapi kami mengimbau agar tetap waspada terhadap kemungkinan yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Terkait larangan pendakian, Awal menyebutkan bahwa kebijakan tersebut telah diberlakukan sejak beberapa waktu lalu dan hingga kini belum ada kepastian kapan jalur pendakian akan kembali dibuka.

Gunung Slamet sendiri dikenal memiliki karakteristik erupsi bertipe strombolian, yang umumnya tidak mengeluarkan material vulkanik dalam jumlah besar.

Pada erupsi sebelumnya pada 2014, aktivitas lebih didominasi oleh lontaran pijar api tanpa diikuti semburan material signifikan.

“Kita berharap kondisi tetap aman, namun kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,” tuturnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#gunung slamet