RADARBANYUWANGI.ID – Tumpukan sampah styrofoam mendadak muncul di jalur strategis Gunung Gumitir, Banyuwangi, dan langsung memicu polemik. Di satu sisi, petugas bergerak cepat membersihkan. Namun di sisi lain, metode yang digunakan—pembakaran di tempat—justru memunculkan kekhawatiran baru soal dampak lingkungan.
Peristiwa ini terjadi di wilayah Dusun Barurejo, Desa Kalibarumanis, Kecamatan Kalibaru, Rabu malam (15/4). Tumpukan styrofoam ditemukan menggunung di tepi jalan nasional yang menghubungkan Banyuwangi–Jember, jalur vital dengan lalu lintas padat.
Baca Juga: Pertashop Berguguran di Banyuwangi: Tanpa Rem Regulasi, Persaingan Jadi “Senjata Makan Tuan”
Muncul Tiba-Tiba, Tanpa Jejak Pelaku
Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banyuwangi bersama relawan Jalur Gumitir dibuat kewalahan. Sampah dalam jumlah besar itu disebut muncul secara misterius tanpa diketahui siapa pelakunya.
“Kami dapat laporan dari pengguna jalan. Tiba-tiba sudah menumpuk, tidak ada yang tahu siapa yang buang,” ujar petugas TRC BPBD wilayah Kalibaru, Mad Sholeh.
Temuan ini langsung memicu respons cepat. Selain merusak pemandangan, keberadaan sampah di tepi jalan berpotensi mengganggu arus lalu lintas dan membahayakan pengguna jalan, terutama di jalur berkelok seperti Gumitir.
Dibakar di Tempat, Langkah Cepat yang Dipertanyakan
Karena keterbatasan fasilitas penanganan sampah di lokasi, petugas memutuskan langkah instan: membakar seluruh tumpukan styrofoam di tempat.
“Jumlahnya banyak, paling cepat ya dibakar. Tapi kami upayakan asapnya tidak mengganggu pengguna jalan,” kata Mad Sholeh.
Langkah ini memang efektif dalam waktu singkat. Namun, pembakaran styrofoam dikenal berisiko tinggi terhadap lingkungan karena dapat melepaskan zat berbahaya ke udara.
Di sinilah muncul dilema: antara kebutuhan penanganan cepat dan potensi pencemaran jangka panjang.
Baca Juga: Silaturahmi PCNU Banyuwangi dengan Bupati Berlangsung Gayeng dan Penuh Keakraban
Relawan Akui Keterbatasan Fasilitas
Koordinator relawan Gumitir, Wiji Haryanto, mengakui bahwa keputusan pembakaran diambil karena tidak adanya alternatif lain.
“Kami tidak punya tempat penampungan sampah. Jadi terpaksa dibakar. Sekarang sudah bersih berkat bantuan BPBD,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan persoalan yang lebih besar: minimnya infrastruktur pengelolaan sampah di jalur strategis.
Baca Juga: Plot Twist Panas! Azizah Salsha Siap Cabut Laporan, Resbob dan Bigmo Akhirnya Luluh
Ancaman Berulang, Pengawasan Diperketat
Kasus ini bukan hanya soal satu tumpukan sampah, tetapi juga indikasi lemahnya pengawasan di kawasan rawan pembuangan ilegal.
Relawan kini berupaya menelusuri pelaku pembuangan sampah tersebut. Dugaan sementara mengarah pada oknum yang sengaja membuang limbah dalam jumlah besar untuk menghindari biaya pengelolaan.
“Kami akan cari tahu siapa yang buang. Ke depan pengawasan diperketat. Kalau ketahuan, pasti kami tegur dan beri sosialisasi,” tegas Wiji.
Baca Juga: Pertashop Berguguran di Banyuwangi: Tanpa Rem Regulasi, Persaingan Jadi “Senjata Makan Tuan”
Jalur Strategis, Rentan Jadi Tempat Pembuangan
Jalur Gumitir selama ini dikenal sebagai titik rawan, tidak hanya kecelakaan lalu lintas, tetapi juga praktik pembuangan sampah liar. Minimnya penerangan dan pengawasan di beberapa titik membuat kawasan ini kerap dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab.
Jika tidak ada langkah tegas, kejadian serupa berpotensi terulang—bahkan dengan skala lebih besar.
Baca Juga: Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Wafat Mendadak, Dunia Pers Kehilangan Sosok Penggerak
Darurat Sampah atau Darurat Kebijakan?
Kasus ini membuka dua persoalan sekaligus: perilaku masyarakat yang masih abai terhadap lingkungan, serta keterbatasan sistem pengelolaan sampah di daerah.
Pembakaran mungkin menjadi solusi cepat. Namun tanpa penanganan sistemik, masalah hanya berpindah bentuk—dari tumpukan sampah menjadi polusi udara.
Kini, publik menunggu langkah lanjutan. Apakah cukup dengan membersihkan, atau berani menindak tegas pelaku dan memperbaiki sistem?
Satu hal yang pasti, Jalur Gumitir tidak boleh terus menjadi “tempat sampah” tak resmi yang dibiarkan tanpa pengawasan. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin