Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pencurian Meteran Air Marak di Banyuwangi, Warga Darungan Rugi Ratusan Ribu dan Krisis Air

Salis Ali Muhyidin • Jumat, 17 April 2026 | 05:50 WIB
SERING HILANG: Sugito menunjukkan meteran air di warungnya di Dusun Darungan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu kemarin (16/4). Pada Selasa (14/4) lalu meteran yang dipasang di lokasi tersebut hilang dicuri maling. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
SERING HILANG: Sugito menunjukkan meteran air di warungnya di Dusun Darungan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu kemarin (16/4). Pada Selasa (14/4) lalu meteran yang dipasang di lokasi tersebut hilang dicuri maling. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Aksi pencurian meteran air mulai meresahkan warga Dusun Darungan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu. Dalam sepekan terakhir, sedikitnya tiga warga menjadi korban. Modusnya sama: pelaku mengincar komponen kuningan, meninggalkan warga tanpa akses air bersih.

Kasus ini tak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga langsung memukul aktivitas harian warga. Tanpa meteran, aliran air PDAM otomatis terputus, memaksa korban mencari solusi cepat dengan biaya sendiri.

Sugito, 72, salah satu korban, mengaku kehilangan meteran air yang terpasang di depan warungnya. Ia menduga pencurian terjadi pada Senin malam (13/4), meski baru disadari keesokan harinya.

“Malamnya ada yang lihat orang di depan warung, tapi tidak curiga. Paginya saat mau jualan, air mati. Setelah dicek, meterannya sudah hilang,” ujarnya.

Hilangnya meteran tersebut membuat Sugito langsung kesulitan air. Aktivitas jualannya pun sempat terganggu karena tidak ada pasokan air bersih.

“Sehari itu kesulitan air. Tidak bisa jualan seperti biasa,” katanya.

Ia kemudian melaporkan kejadian itu ke petugas PDAM setempat. Hasil pengecekan memastikan bahwa meteran tersebut memang dicuri, bukan karena kerusakan teknis atau tunggakan pembayaran.

“Petugas bilang memang dicuri. Saya juga tidak punya tunggakan apa-apa,” ucapnya.

Namun, persoalan tak berhenti di situ. Sugito harus merogoh kocek sendiri untuk mengganti meteran agar aliran air kembali normal. Ia mengaku mengeluarkan biaya hingga Rp 450 ribu.

“Saya beli sendiri. Mau tidak mau, kalau tidak diganti air tidak bisa hidup. Saya tidak bisa jualan,” keluhnya.

Dari informasi petugas, pelaku diduga tidak mengincar meteran secara utuh, melainkan bagian kuningan yang memiliki nilai jual.

“Kemungkinan yang diambil kuningannya. Itu yang bisa dijual. Kalau meterannya sendiri tidak laku,” jelas Sugito.

Meski menjadi korban, ia memilih tidak melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Kepala Dusun Darungan, Hadi Sukoco, menyebut sedikitnya tiga warga telah melapor mengalami kejadian serupa dalam waktu berdekatan.

“Ada tiga warga yang sudah terkonfirmasi. Kemungkinan ada lagi, tapi belum semua melapor,” ujarnya.

Ia menilai, rumah-rumah yang berada di pinggir jalan raya menjadi sasaran empuk pelaku. Sebagian besar menggunakan layanan PDAM dengan posisi meteran yang relatif mudah dijangkau.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, pihak dusun telah mengimbau warga agar meningkatkan pengamanan, termasuk menambah pelindung pada instalasi meteran air.

“Saya sudah mengimbau warga agar lebih waspada dan memberi pengaman tambahan pada meteran,” tegasnya.

Maraknya pencurian ini menjadi sinyal lemahnya pengawasan di lingkungan permukiman, sekaligus membuka celah baru tindak kriminal berbasis material kecil bernilai jual tinggi.

Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin kasus serupa akan terus meluas—dan warga kecil kembali menjadi pihak yang paling dirugikan. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Dusun Darungan #pencurian meteran air #kriminalitas desa #PDAM #banyuwangi