250 Ton Bangkai KMP Tunu Sudah Dilebur, Sisa 50 Ton Masih Terkubur di Dasar Selat Bali

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Jumat, 17 April 2026 | 05:40 WIB
DIJADIKAN BESI TUA: Pekerja pengelasan memotong bagian-bagian kerangka KMP Tunu Pratama Jaya di dermaga pelabuhan rakyat Marina Boom, Kamis (16/4). (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)
DIJADIKAN BESI TUA: Pekerja pengelasan memotong bagian-bagian kerangka KMP Tunu Pratama Jaya di dermaga pelabuhan rakyat Marina Boom, Kamis (16/4). (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Proses evakuasi bangkai KMP Tunu Pratama Jaya memasuki fase akhir. Namun, di balik capaian 80 persen pengangkatan, masih tersisa puluhan ton rangka baja yang tertimbun di dasar Selat Bali—menjadi pengingat tragedi laut yang belum sepenuhnya usai.

Sebanyak 250 ton sisa bangkai kapal telah dilebur di pabrik pengolahan logam di Surabaya. Sementara sekitar 50 ton lainnya masih dalam proses evakuasi, sebagian masih terkubur di kedalaman laut.

Pantauan di Pelabuhan Rakyat Pantai Boom Banyuwangi, Kamis (16/4), aktivitas pemotongan bangkai kapal terus berlangsung. Potongan baja hasil pengangkatan dipreteli menjadi lempengan sebelum dikirim ke Surabaya.

Di atas kapal tongkang, crane terus bekerja mengangkat dan memindahkan sisa bangkai ke dermaga secara bertahap. Proses ini menjadi krusial untuk menuntaskan evakuasi yang sempat terhenti lebih dari satu bulan.

Pengawas PT Buto, Yudha Surya Saputra, mengungkapkan bahwa total sekitar 300 ton material bangkai telah berhasil diangkat dari dasar laut. Dari jumlah itu, 250 ton sudah dikirim ke pabrik peleburan.

“Yang sudah terkirim sekitar 250 ton. Sisanya sekitar 50 ton masih dalam proses pemotongan dan pemindahan ke darat,” ujarnya.

Namun, proses tersebut tak berjalan mulus. Evakuasi sempat mandek akibat keterlambatan operator crane asal Tiongkok yang belum kembali pasca libur Imlek.

“Kita sempat menunggu operator crane. Rencana awal Maret, tapi baru pertengahan April datang. Dalam satu-dua hari ini proses pengangkatan sisa akan dilanjutkan,” jelas Yudha.

Kendala lain muncul dari keterbatasan infrastruktur dermaga. Kondisi pelabuhan yang sempit membuat proses distribusi material tidak bisa dilakukan sekaligus dalam jumlah besar.

“Setiap truk maksimal hanya bisa membawa 14 ton. Tidak bisa langsung banyak karena kita khawatir struktur dermaga tidak kuat menahan beban,” imbuhnya.

Sementara itu, bagian bangkai yang masih berada di dasar laut diperkirakan merupakan lambung kapal dengan bobot antara 50 hingga 70 ton. Untuk memastikan kondisi terkini, tim akan kembali menurunkan ROV (remotely operated vehicle) ke dasar laut.

“Nanti kita turunkan ROV lagi untuk melihat kondisi terakhir. Yang terlihat sebelumnya ada kerangka baja, kemungkinan dari kendaraan yang ikut tenggelam,” katanya.

Targetnya, seluruh proses evakuasi dapat diselesaikan pada akhir bulan ini. Meski demikian, pekerjaan di kedalaman 56 meter bukan tanpa risiko, mengingat kondisi arus laut Selat Bali yang cukup ekstrem.

Sebagai pengingat, KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam pada awal Juli 2025 di perairan Selat Bali. Tragedi tersebut menelan puluhan korban jiwa dan menjadi salah satu kecelakaan laut paling menyita perhatian publik.

Bangkai kapal tidak diangkat secara utuh, melainkan dipotong (dijagal) di dasar laut sebelum diangkat menggunakan kapal crane BC Pioner 88. Selain rangka kapal, proses evakuasi juga mengangkat muatan berupa 14 truk, dua mobil, dan empat sepeda motor.

Kini, meski sebagian besar bangkai telah berhasil diangkat dan dilebur, sisa logam di dasar laut menjadi simbol bahwa proses penuntasan tragedi ini belum sepenuhnya selesai.

Publik pun menanti, apakah target akhir bulan benar-benar bisa tercapai, atau justru kembali tersendat di tengah tantangan teknis di lapangan. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
bangkai kapal Banyuwangi evakuasi kapal tenggelam pelabuhan Boom KMP Tunu Pratama Jaya selat bali