Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sanca Bodo Dilepasliarkan ke Hutan Besowo, Simbol Harmoni Manusia dan Alam di Kediri

Ali Sodiqin • Kamis, 9 April 2026 | 14:08 WIB
Ular sanca hasil penyerahan warga dilepasliarkan ke Cagar Alam Besowo Gadungan, simbol konservasi dan harmoni manusia dengan alam. (bbksdajatim.org)
Ular sanca hasil penyerahan warga dilepasliarkan ke Cagar Alam Besowo Gadungan, simbol konservasi dan harmoni manusia dengan alam. (bbksdajatim.org)

RADARBANYUWANGI.ID – Di balik rimbunnya vegetasi hutan Cagar Alam Besowo Gadungan, seekor ular sanca remaja perlahan bergerak menyusuri semak belukar. Tubuhnya yang berotot melata tenang, seolah kembali mengenali denyut alam yang lama terputus dari kehidupannya.

Pagi itu, 31 Maret 2026 pukul 10.30 WIB, sebuah perjalanan pulang dimulai.

Bukan sekadar pelepasliaran satwa liar, melainkan simbol keterhubungan antara manusia dan alam yang masih terus dijaga.

Satwa yang dilepasliarkan adalah Sanca Bodo, ular sanca hasil penyerahan sukarela dari masyarakat yang sebelumnya ditemukan berada di luar habitat alaminya.

Pelepasliaran ini dilakukan oleh Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Jawa Timur, sebagai bagian dari upaya konservasi dan penanganan konflik manusia dengan satwa liar.

Tim yang terlibat terdiri dari Achmad Soleh Chamdani, Febrian Wahyu, Suprihadi, dan Supardi (MMP).

Mereka memastikan satwa dalam kondisi sehat sebelum dikembalikan ke alam bebas.

“Satwa dipastikan sehat, tidak mengalami luka, tidak menunjukkan stres berlebih, dan masih memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat aslinya,” demikian keterangan tim dalam laporan kegiatan.

Habitat Alami Jadi Ruang Aman

Lokasi pelepasliaran dipilih secara khusus di wilayah yang secara ekologis dinilai masih sangat mendukung keberlangsungan hidup spesies ular sanca.

Kawasan hutan alami dengan vegetasi rapat memberikan ruang aman bagi satwa untuk berburu, berlindung, dan berkembang biak.

Tutupan hutan yang masih baik juga menjadi faktor penting agar satwa dapat kembali beradaptasi secara alami.

Di tengah semakin meningkatnya tekanan terhadap habitat satwa liar, pelepasliaran seperti ini menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Konflik Manusia dan Satwa Kian Meningkat

Di balik kisah satu ular yang kembali ke habitatnya, tersimpan pesan yang lebih besar tentang kondisi lingkungan saat ini.

Alih fungsi lahan, pembukaan kawasan hutan, serta fragmentasi habitat menjadi faktor utama yang mendorong satwa liar keluar dari kawasan alaminya.

Kondisi tersebut membuat satwa lebih sering memasuki area permukiman warga.

Tidak jarang, hal ini memicu konflik antara manusia dan hewan liar.

Karena itu, kesadaran masyarakat memegang peranan sangat penting.

Penyerahan satwa secara sukarela oleh warga menunjukkan tumbuhnya pemahaman bahwa satwa liar bukan untuk dipelihara, diperdagangkan, atau dibunuh.

Sebaliknya, satwa merupakan bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama.

Edukasi Konservasi Terus Diperkuat

Melalui Program Matawali, Balai Besar KSDA Jawa Timur terus memperkuat respons cepat terhadap laporan konflik manusia dan satwa liar.

Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berupa evakuasi dan pelepasliaran, tetapi juga edukasi kepada masyarakat.

Sosialisasi dilakukan baik secara langsung maupun melalui media digital untuk menanamkan nilai konservasi.

Langkah ini dinilai strategis agar masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga habitat dan keberadaan satwa liar.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang berhasil diselamatkan.

Lebih dari itu, keberhasilan sesungguhnya terletak pada tumbuhnya kesadaran kolektif manusia untuk hidup berdampingan dengan alam.

Kini, di hutan Besowo, sanca itu telah kembali.

Kembali menjadi bagian dari ekosistem yang semestinya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#ular sanca dilepasliarkan #Cagar Alam Besowo #KSDA Kediri #konservasi satwa liar #Matawali KSDA Jatim