Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

El Nino dan La Nina: Pengertian, Dampak di Indonesia, hingga Ancaman Bencana yang Perlu Diwaspadai

Ali Sodiqin • Rabu, 8 April 2026 | 22:00 WIB
El Nino dan La Nina mempengaruhi cuaca di dunia, termasuk Indonesia. (BMKG)
El Nino dan La Nina mempengaruhi cuaca di dunia, termasuk Indonesia. (BMKG)

RADARBANYUWANGI.ID – Fenomena El Niño dan La Niña menjadi dua istilah yang kerap muncul dalam pembahasan perubahan iklim global. Keduanya memiliki pengaruh besar terhadap pola cuaca dunia, termasuk di Indonesia, mulai dari peningkatan curah hujan hingga risiko kekeringan ekstrem.

Memahami perbedaan El Niño dan La Niña menjadi penting agar masyarakat dapat mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, terutama di sektor pertanian, lingkungan, dan kebencanaan.

Asal-usul Istilah El Niño

Istilah El Niño berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki”. Nama ini awalnya digunakan oleh nelayan di Peru dan Ekuador untuk menggambarkan arus laut hangat yang muncul menjelang Natal di sepanjang pesisir Amerika Selatan.

Fenomena tersebut kemudian dikenal sebagai El Niño de Navidad, yang merujuk pada kelahiran Yesus Kristus. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, El Niño dipahami sebagai anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak luas secara global.

Pemanasan ini bahkan dapat meluas hingga garis batas penanggalan internasional di Pasifik tengah.

Apa Itu La Niña?

Kebalikan dari El Niño, La Niña merupakan fenomena pendinginan suhu permukaan laut di wilayah yang sama, yakni Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur.

Kondisi ini terjadi akibat perubahan pola sirkulasi atmosfer, khususnya sirkulasi Walker, yang mengatur pergerakan angin di sepanjang garis ekuator.

La Niña menyebabkan peningkatan aktivitas awan hujan di wilayah barat Pasifik, termasuk Indonesia, sehingga curah hujan cenderung meningkat.

Fenomena ini biasanya terjadi secara siklus setiap beberapa tahun dan dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga dua tahun.

Dampak El Niño dan La Niña di Indonesia

El Niño dan La Niña memberikan dampak yang berbeda terhadap pola curah hujan di Indonesia.

Saat La Niña:

Namun, La Niña tidak berarti tidak ada musim kemarau. Kondisi ini sering disebut sebagai “kemarau basah” karena hujan masih terjadi di periode kemarau.

Saat El Niño:

Meski demikian, El Niño tidak berarti hujan berhenti total. Beberapa wilayah masih dapat mengalami hujan, terutama di musim penghujan.

Contoh Kejadian Ekstrem

Sejarah mencatat beberapa kejadian El Niño dan La Niña yang berdampak besar di Indonesia.

La Niña kuat pada tahun 2010 menyebabkan curah hujan di atas normal di banyak wilayah, bahkan memicu hujan ekstrem di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan.

Sebaliknya, El Niño kuat pada tahun 1997 menyebabkan penurunan curah hujan drastis. Banyak wilayah mengalami kekeringan parah, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.

Potensi Bencana yang Mengintai

Kedua fenomena ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi yang berdampak luas.

Saat La Niña:

Saat El Niño:

Dampak lanjutan dari kekeringan juga dapat memengaruhi kondisi ekonomi dan sosial masyarakat, terutama di sektor pangan.

Pentingnya Mitigasi dan Kesiapsiagaan

Para ahli menekankan pentingnya pemantauan kondisi iklim secara berkala serta kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi dampak El Niño dan La Niña.

Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan dapat menyesuaikan pola tanam, pengelolaan air, serta langkah mitigasi bencana untuk meminimalkan risiko yang ditimbulkan.

Dengan pemahaman yang baik, fenomena El Niño dan La Niña tidak hanya menjadi ancaman, tetapi juga dapat diantisipasi untuk mengurangi dampak negatifnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#ENSO #dampak iklim Indonesia #el nino #curah hujan #La Nina