RADARBANYUWANGI.ID – Sejumlah wilayah di Banyuwangi dan sekitarnya masih kerap diguyur hujan deras meski telah memasuki bulan April yang identik sebagai awal musim kemarau. Kondisi ini memicu pertanyaan masyarakat terkait anomali cuaca yang terjadi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa fenomena tersebut masih tergolong wajar. Curah hujan tinggi yang terjadi saat ini merupakan bagian dari masa peralihan musim atau pancaroba.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa awal musim kemarau di Indonesia tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah.
“Awal musim kemarau selalu berbeda-beda dari daerah ke daerah. Tidak semuanya bermula dari April,” ujarnya.
Pancaroba Picu Hujan Masih Tinggi
Menurut BMKG, masa pancaroba memang ditandai dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Hujan masih dapat terjadi dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan disertai angin kencang dan petir.
Data BMKG menunjukkan, dalam periode 30 Maret hingga 1 April 2026, sejumlah wilayah di Indonesia masih mengalami curah hujan tinggi.
Hujan dengan intensitas sangat lebat tercatat di Maluku mencapai 134,3 mm per hari. Sementara hujan lebat juga terjadi di beberapa daerah lain seperti Sumatra Barat (86,6 mm/hari), Sumatra Utara (77,6 mm/hari), Sulawesi Selatan (76,0 mm/hari), Aceh (75,6 mm/hari), Gorontalo (60,5 mm/hari), Kalimantan Barat (58,3 mm/hari), hingga Nusa Tenggara Barat (57,5 mm/hari).
Kondisi ini memperlihatkan bahwa meski sebagian wilayah telah memasuki fase awal kemarau, potensi hujan masih tetap tinggi.
Dipicu Gelombang Atmosfer
BMKG menjelaskan bahwa tingginya curah hujan dipengaruhi oleh berbagai faktor atmosfer. Di antaranya adalah aktivitas gelombang Equatorial Rossby, gelombang Kelvin, serta Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang masih aktif di sejumlah wilayah.
Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) juga terpantau aktif di sebagian besar wilayah Sumatra, sehingga meningkatkan pembentukan awan hujan.
Peralihan dominasi monsun Asia ke monsun Australia juga turut memicu terbentuknya pola sirkulasi dan konvergensi udara, yang berkontribusi pada peningkatan curah hujan.
Faktor lain seperti perlambatan angin serta pemanasan permukaan pada siang hari turut memperkuat pertumbuhan awan konvektif penyebab hujan.
Kemarau Mulai Bertahap
BMKG mencatat, hingga akhir Maret 2026, baru sekitar 7 persen zona musim (ZOM) di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau.
Wilayah yang lebih dulu memasuki kemarau antara lain sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, hingga Papua Barat.
Sementara itu, pada bulan April diperkirakan sekitar 114 ZOM atau 16,3 persen wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau, termasuk sebagian wilayah Jawa.
Adapun puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, mencakup sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa pancaroba.
Masyarakat diminta untuk terus memantau informasi resmi BMKG, terutama terkait peringatan dini hujan lebat, angin kencang, hingga potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
“BMKG akan terus memantau dinamika iklim global dan regional serta memberikan pembaruan informasi secara berkala,” ujarnya.
Banyuwangi Masih Berpotensi Hujan
Untuk wilayah Banyuwangi dan Jawa Timur secara umum, hujan masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan, terutama pada sore hingga malam hari.
Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga peralihan musim benar-benar stabil menuju kemarau.
Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk tidak lengah meski telah memasuki bulan April, karena potensi hujan lebat masih bisa terjadi sewaktu-waktu. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : BMKG