Waspada El Nino 2026, DPRD Jawa Timur Imbau Petani Beralih ke Palawija dan Optimalkan Waduk

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB
DPRD Jawa Timur mengingatkan warga waspadai kemarau panjang 2026 akibat El Nino. (Pexels/Markus Spiske)
DPRD Jawa Timur mengingatkan warga waspadai kemarau panjang 2026 akibat El Nino. (Pexels/Markus Spiske)

RADARBANYUWANGI.ID - Masyarakat Jawa Timur diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi akan berlangsung lebih lama dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino diprediksi menjadi faktor utama yang memicu penurunan curah hujan secara signifikan di wilayah ini.

Musim kemarau diperkirakan mulai memasuki wilayah Jawa Timur pada April 2026, dengan puncak kekeringan yang diprediksi terjadi pada Agustus.

Namun, beberapa wilayah diinstruksikan untuk bersiap lebih awal karena potensi puncak kemarau dapat terjadi mulai Juli 2026.

Dengan durasi mencapai 7 hingga 8 bulan, kondisi ini membawa tantangan besar bagi ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan daerah.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, Chusni Mubarok, menekankan bahwa mitigasi dini adalah kunci agar dampak buruk kekeringan tidak meluas ke berbagai sendi kehidupan.

"Pentingnya kolaborasi dan kesiapan sejak dini agar dampak kemarau terhadap pertanian, ketersediaan air, dan kehidupan masyarakat dapat diminimalkan," tegas Chusni melalui keterangan resminya.

Menanggapi ancaman kekeringan pada lahan pertanian, DPRD Jatim menyarankan para petani untuk segera menyesuaikan strategi tanam.

Penggunaan varietas padi yang memiliki masa tanam pendek serta ketahanan tinggi terhadap kekeringan menjadi prioritas utama.

Selain itu, masyarakat tani didorong untuk mulai mengalihkan sebagian lahan padi mereka ke tanaman palawija yang lebih minim penggunaan air.

Di sisi lain, optimalisasi infrastruktur air menjadi krusial.

Pemerintah daerah diharapkan memaksimalkan pengisian waduk dan embung sebelum masa hujan berakhir sepenuhnya.

Pengaturan distribusi air secara efisien sangat diperlukan untuk menyeimbangkan kebutuhan konsumsi rumah tangga, energi listrik, hingga irigasi pertanian.

Sektor kebencanaan juga tidak luput dari perhatian.

Masyarakat diminta waspada terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap meningkat saat suhu udara memanas dan vegetasi mengering.

Selain itu, langkah-langkah darurat untuk penyaluran air bersih ke wilayah-wilayah rawan kekeringan harus mulai dipetakan sejak saat ini.

Dengan langkah-langkah preventif ini, diharapkan Jawa Timur mampu melewati tantangan iklim pada tahun 2026 dengan dampak yang seminimal mungkin, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat tetap kokoh di tengah fenomena alam yang ekstrem.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Petani palawija el nino DPRD jawa timur