Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

BMKG Ingatkan Musim Kemarau 2026 Lebih Kering, Potensi El Nino Capai 80 Persen di Semester Kedua

Lugas Rumpakaadi • Senin, 6 April 2026 | 14:11 WIB
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih kering dan lebih panjang akibat potensi fenomena El Nino di semester kedua. (Pixabay)
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih kering dan lebih panjang akibat potensi fenomena El Nino di semester kedua. (Pixabay)

RADARBANYUWANGI.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait karakteristik musim kemarau tahun ini.

Berdasarkan pemantauan terbaru hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah resmi memasuki periode kemarau, dengan proyeksi peningkatan signifikan pada bulan April hingga Juni mendatang.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa wilayah yang mulai terdampak meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, hingga wilayah di Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua Barat.

Ia menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap dinamika iklim yang terus bergerak dinamis.

“BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi,” ujar Faisal, Minggu (5/4/2026).

Selain transisi musim, perhatian utama BMKG tertuju pada potensi munculnya fenomena El Nino pada paruh kedua tahun 2026.

Meskipun saat ini kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral, pemodelan iklim menunjukkan tren penguatan menuju fase El Niño.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa peluang terjadinya El Nino berada pada kisaran 50-80% dengan intensitas lemah hingga moderat.

Kendati demikian, ia memberikan catatan khusus mengenai hambatan prediksi pada periode ini yang dikenal sebagai spring predictability barrier.

“Akurasi prediksi El Niño yang dihasilkan pada periode Maret-April umumnya hanya andal untuk prakiraan tiga bulan ke depan. Prediksi pada bulan Mei mendatang akan memiliki tingkat kepercayaan dan keandalan yang lebih tinggi untuk menjangkau kondisi iklim hingga enam bulan ke depan,” jelas Ardhasena.

Masyarakat dan pemangku kebijakan diminta untuk bersiap menghadapi musim kemarau yang diprediksi akan lebih kering dan berdurasi lebih panjang dibandingkan dengan rata-rata normalnya.

Hal ini disebabkan oleh kombinasi potensi El Nino dan variabilitas iklim alamiah di wilayah Indonesia.

BMKG mengimbau seluruh pihak untuk segera melakukan langkah-langkah presisi dalam manajemen sumber daya air dan mitigasi kebakaran hutan atau lahan.

Informasi detail mengenai panduan antisipasi dan prediksi per wilayah dapat diakses masyarakat melalui kanal resmi BMKG di laman www.bmkg.go.id.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#el nino #bmkg #musim kemarau