Hanya 39 Persen Sampah Terkelola, Aktivis dan Akademisi Dorong Transformasi Mandiri Pengolahan Limbah di Tingkat Lokal

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 13:35 WIB
Hanya 39 persen sampah di Indonesia terkelola dengan baik. (Pexels/Brett Sayles)
Hanya 39 persen sampah di Indonesia terkelola dengan baik. (Pexels/Brett Sayles)

RADARBANYUWANGI.ID - Indonesia sedang berada di titik nadir dalam penanganan limbah domestik.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) tahun 2023, tercatat dari total 56 juta ton timbulan sampah per tahun, hanya 39 persen yang berhasil dikelola secara memadai.

Angka ini menyisakan jutaan ton sampah yang kini menjadi "bom waktu" bagi kelestarian lingkungan, termasuk di kawasan vital seperti Puncak, Bogor.

Kondisi di lapangan menunjukkan realitas yang getir.

Di lereng-lereng gunung yang masuk dalam Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), praktik pembuangan sampah tak terkendali terus terjadi.

Fenomena ini tidak hanya merusak estetika alam, tetapi juga mengancam ekosistem yang menjadi penyangga kehidupan bagi wilayah di bawahnya.

Guru Besar Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University, Arief Sabdo Yuwono, menegaskan bahwa pendekatan reaktif berupa aksi pembersihan lapangan tidak akan pernah cukup jika tidak menyentuh akar permasalahan.

“Permasalahan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan konvensional seperti open dumping (penumpukan terbuka). Diperlukan perubahan sistem pengelolaan sampah mulai dari sumbernya,” ujar Arief.

Ia menambahkan bahwa kunci keberlanjutan terletak pada kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah serta penyediaan infrastruktur daur ulang yang mumpuni, alih-alih hanya memindahkan beban masalah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Urgensi perubahan sistem ini terlihat nyata dalam aksi bersih-bersih di Desa Sukagalih, Megamendung.

Di satu titik lokasi saja, timbunan sampah liar diperkirakan mencapai 30 ton, beban yang setara dengan kapasitas 20 truk sampah.

Meski kolaborasi relawan dan dinas terkait telah bergerak sejak pertengahan Maret lalu, baru sekitar 6 ton yang berhasil dievakuasi.

Besarnya volume sampah di kawasan penyangga ini menjadi peringatan keras.

Tanpa penanganan sistemik, tumpukan limbah ini berisiko menyumbat aliran air dan memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor yang mengancam wilayah lereng bawah.

Selain faktor infrastruktur, aspek perilaku masyarakat menjadi sorotan utama.

Imanuel Wirajaya, Direktur Utama EIGER Adventure Land sekaligus pengelola ekowisata di kawasan tersebut, menekankan bahwa edukasi wajib memilah sampah adalah harga mati.

“Permasalahan sampah di kawasan seperti Puncak tidak hanya soal volume, tetapi juga perilaku. Pembuangan sampah sembarangan dapat berdampak langsung terhadap lingkungan sekitar, mulai dari pencemaran hingga potensi bencana. Perubahan perilaku dan wajib pilah sampah dari sumber sangat penting diwujudkan,” kata Imanuel.

Ke depannya, tantangan besar bagi wilayah hulu adalah menghentikan ketergantungan pada pembersihan periodik.

Transformasi menuju sistem terintegrasi yang mampu mengolah sampah secara mandiri di tingkat lokal menjadi satu-satunya jalan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dalam jangka panjang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Pengolahan Limbah aktivis mandiri Sampah akademisi