Paskah 2026 di Tengah Krisis Global, Seruan GKJW untuk Menemukan Harapan dalam Kebangkitan Kristus

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Minggu, 5 April 2026 | 10:39 WIB
Pesan Paskah 2026 mengajak umat menemukan harapan di tengah krisis global.
Pesan Paskah 2026 mengajak umat menemukan harapan di tengah krisis global. (Pexels/Bruno Vieira)

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia yang dipicu konflik pasca serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, perayaan Paskah 2026 hadir dengan nuansa reflektif yang mendalam.

Kekhawatiran terhadap krisis energi dan ancaman resesi global kini membayangi kehidupan masyarakat internasional, sehingga menciptakan suasana ketidakpastian yang semakin nyata.

Dalam situasi tersebut, Pendeta Yulius Setyo Nugroho, pendeta dari IPTh Balewiyata dan perwakilan Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW), mengajak umat untuk kembali menemukan sumber kekuatan sejati melalui makna kebangkitan Kristus.

“Paskah tahun ini terasa berbeda dengan Paskah-paskah sebelumnya. Ketidakpastian mengedepan dan kehidupan semakin penuh tantangan,” ujarnya dalam pesan Paskah 2026, Minggu (5/4/2026).

Ia menyoroti perubahan nilai dalam kehidupan global, di mana prinsip-prinsip kemanusiaan seperti perdamaian, cinta kasih, dan keadilan kian terpinggirkan.

Sebaliknya, eksploitasi dan kekerasan justru semakin diagungkan.

“Keutamaan nilai perdamaian, kehidupan, cinta, kasih, keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan semakin menjadi seperti barang usang yang dengan mudah dapat dibuang,” tegasnya.

Melalui tema Paskah tahun ini, “Kebangkitan Kristus Membaharui Kehidupan”, umat diajak untuk merenungkan kembali makna kebangkitan sebagai sumber harapan yang tidak meniadakan luka, melainkan merangkulnya sebagai bagian dari proses pemulihan.

Menurutnya, kebangkitan Kristus bukanlah simbol kesempurnaan tanpa cela, tetapi justru menghadirkan realitas luka dan penderitaan yang diubah menjadi kekuatan.

“Kebangkitan Kristus adalah kebangkitan yang mengakrabbi luka, yang merengkuh derita, dan yang menerima trauma sebagai realitas tak terelakkan,” ungkapnya.

Pesan tersebut juga menekankan pentingnya transformasi pribadi di tengah situasi dunia yang tidak menentu.

Ia mengutip 2 Korintus 5:17 sebagai landasan spiritual, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa luka yang tidak diolah berpotensi diwariskan dan memperluas penderitaan.

Oleh karena itu, umat diajak untuk menghadirkan belarasa, kepedulian, dan solidaritas nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Maka mari bersama membaharui kehidupan. Mari bangkit bersama Kristus dan bergerak untuk merengkuh dan mentransformasi luka dan trauma,” pesannya.

Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh umat untuk menghayati Paskah sebagai momentum kebangkitan spiritual yang membawa harapan baru di tengah dunia yang penuh tantangan.

“Selamat menghayati Paskah. Jalanilah hidup bersama dan di dalam Kristus yang bangkit. Tuhan memberkati," pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
paskah krisis global kebangkitan kristus harapan GKJW