RADARBANYUWANGI.ID – Kepanikan sempat melanda warga pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara setelah gempa bumi kuat magnitudo 7,4 yang kemudian direvisi menjadi 7,6 mengguncang kawasan tersebut pada Kamis pagi (2/4/2026).
Guncangan yang terjadi pukul 06.38 WITA itu memicu tsunami di sejumlah titik, dengan gelombang tertinggi mencapai 0,75 meter di Kema, Minahasa Utara.
Warga yang berada di sekitar pantai berhamburan menyelamatkan diri sesaat setelah peringatan dini tsunami dikeluarkan.
Suasana panik terjadi di beberapa wilayah pesisir, terutama di Minahasa Utara, Bitung, dan sebagian wilayah Maluku Utara.
Gelombang laut yang naik meski tidak terlalu tinggi tetap membuat warga memilih menjauh dari garis pantai.
Kema Jadi Titik Tertinggi
Data yang dihimpun dari @infogempabumi menunjukkan tinggi gelombang tsunami bervariasi di sejumlah wilayah.
Kema menjadi titik dengan angka tertinggi.
Berikut rinciannya:
-
Kema, Minahasa Utara: 0,75 meter
-
Tanjung Merah: 0,65 meter
-
Halmahera Barat: 0,30 meter
-
Bitung: 0,20 meter
-
Beo: 0,15 meter
-
Talengan: 0,13 meter
-
Davao, Filipina: 0,05 meter
Meski secara angka tergolong sedang, gelombang tersebut cukup membuat masyarakat panik karena datang tak lama setelah gempa besar mengguncang.
Dipicu Patahan Naik
BMKG menjelaskan gempa ini dipicu oleh deformasi kerak bumi dengan mekanisme thrust fault atau patahan naik.
Jenis gempa seperti ini memang memiliki potensi memicu tsunami karena adanya dorongan vertikal dasar laut.
Getaran gempa terasa cukup kuat di sejumlah wilayah Sulawesi Utara hingga Maluku Utara.
Beberapa warga mengaku merasakan rumah bergoyang selama beberapa detik.
Korban Jiwa dan Kerusakan
Selain memicu gelombang tsunami, gempa besar ini juga menyebabkan kerusakan bangunan.
Sejumlah rumah warga dilaporkan mengalami retak dinding, plafon ambruk, dan kerusakan pada bagian atap.
Informasi sementara menyebutkan satu warga di Sulawesi Utara meninggal dunia.
Selain itu, ada warga lain yang mengalami luka dan masih dalam penanganan petugas.
Hingga berita ini diturunkan, pendataan korban dan kerusakan masih terus dilakukan.
Pemerintah daerah bersama BPBD dan aparat setempat terus melakukan asesmen lapangan.
BMKG Cabut Status Tsunami
Kabar yang cukup menenangkan, BMKG telah menyatakan status tsunami berakhir.
Kondisi muka air laut di sejumlah titik pantauan dilaporkan kembali normal.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Petugas juga meminta warga tidak langsung kembali ke kawasan pantai sebelum ada pernyataan aman dari otoritas.
Warga Diimbau Tetap Waspada
Pemerintah dan instansi kebencanaan saat ini masih memantau dampak gempa.
Fokus utama adalah keselamatan warga, pendataan kerusakan, serta antisipasi gempa susulan.
Wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara dikenal berada di jalur aktif cincin api Pasifik sehingga aktivitas seismik tinggi masih mungkin terjadi.
Warga diminta tetap tenang, mengikuti arahan petugas, dan hanya mengandalkan informasi resmi dari BMKG. (*)
Editor : Ali Sodiqin