Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tsunami Gempa Maluku-Sulut 2 April 2026 Capai 0,75 Meter di Kema, Warga Panik Berhamburan, 1 Orang Dilaporkan Meninggal

Ali Sodiqin • Kamis, 2 April 2026 | 12:02 WIB
Gelombang tsunami setinggi hingga 0,75 meter tercatat di pesisir Kema usai gempa Maluku - Sulut. (ilustrasi AI - Radar Palu)
Gelombang tsunami setinggi hingga 0,75 meter tercatat di pesisir Kema usai gempa Maluku - Sulut. (ilustrasi AI - Radar Palu)

RADARBANYUWANGI.ID – Gelombang tsunami akibat gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,4 yang kemudian direvisi menjadi 7,6 mengguncang wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara pada Kamis pagi, 2 April 2026. Ketinggian tsunami tertinggi tercatat mencapai 0,75 meter di wilayah Kema, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Gempa besar tersebut terjadi sekitar pukul 06.38 WITA dan memicu kepanikan warga di sejumlah wilayah pesisir. Warga yang merasakan guncangan kuat langsung berhamburan keluar rumah dan menjauhi kawasan pantai untuk mengantisipasi gelombang susulan.

Berdasarkan analisis BMKG, gempa ini dipicu oleh deformasi kerak bumi dengan mekanisme thrust fault atau patahan naik, sehingga berpotensi memicu tsunami di beberapa wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara.


Ketinggian Tsunami Tertinggi di Kema

Data pemantauan muka air laut menunjukkan tinggi tsunami bervariasi di sejumlah titik. Kema, Minahasa Utara menjadi wilayah dengan gelombang tertinggi, yakni 0,75 meter.

Berikut rincian ketinggian tsunami yang terpantau:

BMKG juga mencatat kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah lain seperti Sidangoli, Belang, dan Sitaro.

Meski tinggi gelombang relatif tidak besar, tsunami tetap berbahaya karena membawa massa air yang bergerak cepat ke daratan.


Warga Panik, Rumah dan Bangunan Rusak

Selain memicu tsunami, gempa besar ini juga menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah terdampak.

Sejumlah rumah warga dan bangunan dilaporkan mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Di beberapa lokasi, dinding rumah retak, plafon runtuh, dan sejumlah fasilitas umum mengalami gangguan.

Informasi sementara menyebutkan satu warga di Sulawesi Utara meninggal dunia, sementara satu warga lainnya mengalami luka-luka.

Korban dan kerusakan masih terus didata oleh pemerintah daerah bersama instansi terkait.

Pihak berwenang juga melaporkan adanya puluhan gempa susulan setelah gempa utama, sehingga masyarakat diminta tetap waspada.


BMKG: Status Tsunami Sudah Berakhir

Kabar yang cukup melegakan, BMKG telah mencabut peringatan dini tsunami setelah kondisi muka air laut dinyatakan kembali normal.

Dalam keterangannya, BMKG menyebutkan status tsunami yang dipicu gempa magnitudo 7,6 tersebut resmi berakhir

Meski demikian, masyarakat di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara tetap diminta tidak lengah.

Warga diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan BPBD setempat terkait kemungkinan gempa susulan.


Pemerintah Pantau Dampak Gempa

Pemerintah bersama instansi kebencanaan saat ini terus melakukan pemantauan di wilayah terdampak.

Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga, pendataan kerusakan, serta mengantisipasi potensi gempa susulan yang masih mungkin terjadi.

Sulawesi Utara dan Maluku Utara memang termasuk wilayah yang rawan aktivitas seismik karena berada di jalur cincin api Pasifik atau Ring of Fire.

Karena itu, masyarakat diminta tetap tenang namun waspada, serta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#tsunami gempa Maluku Sulut #gempa Sulawesi Utara 2 April 2026 #ketinggian tsunami Kema #BMKG tsunami berakhir #gempa Bitung hari ini