Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gempa Magnitudo 7,6 Guncang Ternate, BMKG Sebut Dipicu Deformasi Kerak Bumi dan Berpotensi Tsunami

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 2 April 2026 | 10:33 WIB
Gempa magnitudo 7,6 mengguncang 129 km tenggara Bitung, Sulawesi Utara. (Tangkapan Layar)
Gempa magnitudo 7,6 mengguncang 129 km tenggara Bitung, Sulawesi Utara. (Tangkapan Layar)

RADARBANYUWANGI.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah barat daya Pantai Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, pada Kamis (2/4/2026). Peristiwa ini dipastikan oleh BMKG sebagai gempa tektonik dangkal yang dipicu aktivitas deformasi kerak bumi.

Pelaksana Tugas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa karakteristik gempa menunjukkan adanya pergerakan naik atau thrust fault.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi kerak bumi,” ujarnya dalam laporan resmi yang diterima dari Stasiun Geofisika Manado, dikutip Antara.

Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa terletak pada koordinat 1,25° LU dan 126,27° BT, atau sekitar 129 kilometer arah tenggara Bitung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 33 kilometer.

Getaran gempa dirasakan cukup kuat di Kota Ternate dengan intensitas V–VI MMI. Kondisi ini menyebabkan kepanikan warga yang berlarian keluar rumah serta kerusakan ringan seperti plester dinding yang jatuh.

Di wilayah Ibu, intensitas mencapai V MMI, sementara Kota Manado merasakan getaran IV–V MMI. Sejumlah daerah lain seperti Gorontalo, Bone Bolango, dan Gorontalo Utara mencatat intensitas III MMI, sedangkan Boalemo dan Pohuwato berada pada II–III MMI.

BMKG menyatakan gempa ini berpotensi memicu tsunami. Status siaga diberlakukan di sejumlah wilayah, termasuk Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, serta sebagian wilayah Minahasa.

Sementara itu, status waspada ditetapkan untuk Kepulauan Sangihe, bagian utara Minahasa Utara, dan wilayah selatan Bolaang Mongondow.

Pemantauan alat ukur pasang surut laut (tide gauge) menunjukkan adanya kenaikan muka air laut di beberapa lokasi. Di Halmahera Barat tercatat setinggi 0,30 meter pada pukul 06.08 WIB, disusul Bitung 0,20 meter, Sidangoli 0,35 meter, Minahasa Utara 0,75 meter, dan Belang 0,68 meter.

Hingga pukul 06.50 WIB, BMKG mencatat sebanyak 11 gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 5,5.

Rahmat Triyono mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mengandalkan informasi resmi dari BMKG.

“Kami berharap masyarakat memastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” tegasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#deformasi kerak bumi #ternate #Gempa #bmkg #tsunami