Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gempa Magnitudo 7,6 Guncang Sulawesi Utara-Maluku Utara, Satu Tewas, Warga Panik hingga Mengungsi

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 2 April 2026 | 10:13 WIB
Ilustrasi gempa magnitudo 7,6 mengguncang Bitung, Manado, hingga Ternate. (Gemini AI)
Ilustrasi gempa magnitudo 7,6 mengguncang Bitung, Manado, hingga Ternate. (Gemini AI)

RADARBANYUWANGI.ID - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah laut di tenggara Kota Bitung pada Kamis (2/4/2026) pukul 05.48 WIB atau 06.48 WITA. Guncangan kuat dirasakan hingga Manado dan Ternate, memicu kepanikan warga dan kerusakan bangunan di sejumlah lokasi.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Nasional, pusat gempa berada pada koordinat 1,25 LU dan 126,25 BT dengan kedalaman 62 kilometer. Guncangan dilaporkan berlangsung selama 10 hingga 20 detik di beberapa wilayah terdampak.

Tim SAR melaporkan satu orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka di Manado akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Sementara itu, pendataan korban dan kerusakan masih terus dilakukan oleh aparat setempat.

Seorang warga Manado, Isvara Safitri, menggambarkan kuatnya guncangan yang dirasakan.

“Jalanan aspal sampai bergoyang, kencang banget,” ujarnya, dikutip BBC

“Kepala saya sampai pusing,” tambahnya seraya menceritakan bahwa perabot di rumahnya bergoyang selama beberapa detik.

Safitri juga mengaku mendengar suara seperti gemuruh saat gempa terjadi, meski tidak dapat memastikan sumbernya. Ia segera keluar rumah bersama warga lain yang tampak panik.

“Kayaknya ini gempa paling kencang selama saya tinggal enam tahun di Manado,” katanya.

Kepanikan juga terjadi di Bitung. Warga berhamburan keluar rumah dan bangunan saat guncangan terasa semakin kuat. Yayuk Oktiani (42), warga setempat, mengatakan suasana pasar mendadak kacau.

“Orang-orang di pasar langsung lari keluar, beberapa toko mati lampu. Kami pegangan tangan, banyak yang ketakutan,” tuturnya.

Kekhawatiran meningkat setelah adanya status siaga dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Warga di kawasan pesisir memilih mengungsi ke dataran lebih tinggi, mengantisipasi potensi tsunami.

Di Ternate, laporan dari Basarnas menyebutkan adanya kerusakan bangunan, termasuk rumah dan tempat ibadah. Meski demikian, belum ada laporan korban jiwa di wilayah tersebut. Kerusakan terjadi di beberapa titik seperti Pulau Batang Dua dan wilayah Ternate bagian tengah serta selatan.

BNPB mencatat dua gempa susulan terjadi setelah gempa utama, masing-masing berkekuatan magnitudo 5,5 dan 5,2. Kedua gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, namun tetap dirasakan oleh masyarakat.

Sistem peringatan dini juga mendeteksi gelombang tsunami kecil dengan ketinggian sekitar 0,3 meter di Halmahera Barat dan 0,2 meter di Bitung. Kepala Pusat Data BNPB, Abdul Muhari, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada.

“Meskipun relatif kecil, kondisi ini tetap memerlukan kewaspadaan karena potensi gelombang susulan masih dapat terjadi,” ujarnya.

BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir, untuk tidak kembali ke area rawan sebelum ada pernyataan resmi aman. Warga juga diminta tetap tenang serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Hingga kini, pemantauan dan pembaruan situasi masih terus dilakukan oleh pemerintah dan instansi terkait.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#maluku utara #Gempa #sulawesi utara